IPB University Kenalkan ICAN sebagai Pusat Riset Unggulan Pengembangan Perhutanan Sosial
IPB University memperkenalkan IPB Center for Applied Research in Nature-based Solutions (ICAN) sebagai pusat riset unggulan untuk pengembangan solusi berbasis alam, termasuk perhutanan sosial.
ICAN mendapat dukungan Fincape yang bekerja sama dengan Pemerintah Kanada melalui Universitas Waterloo. Pusat riset yang berdiri sejak Desember 2024 ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin serta membuka peluang kemitraan dengan berbagai pihak.
“ICAN dirancang sebagai lembaga unggulan yang mandiri dan berkelanjutan. Pusat Riset ini juga akan melibatkan berbagai fakultas di IPB,” ujar Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University Prof Naresworo Nugroho kepada para insan media di Hotel Santika Bogor, (25/11).
Salah satu peneliti Fahutan IPB University, Prof Dodik Ridho Nurrochmat, menambahkan bahwa ICAN diproyeksikan menjadi mitra pemerintah dalam berbagai program lingkungan.
“Hasil riset semestinya tidak berhenti setelah proyek selesai, melainkan terus memberi manfaat. Melalui ICAN, hasil riset akan dikembangkan menjadi rekomendasi kebijakan berbasis bukti dengan melibatkan masyarakat, organisasi nirlaba (NGO), akademisi, dan sektor swasta,” sebutnya.
Dekan Sekolah Pascasarjana IPB University ini juga menegaskan pentingnya pengembangan ekosistem berbasis alam di Indonesia. Ia menyoroti belum optimalnya manfaat sosial ekonomi dari perhutanan sosial. “Tata kelola masih belum inklusif. Ada jarak antara konsep ideal dan kenyataan di lapangan,” katanya.
Menurut Prof Dodik, dari total 8,3 juta hektare perhutanan sosial, baru sekitar separuh yang dikelola. Dari 15.758 kelompok usaha perhutanan sosial, hanya 1.470 atau sekitar 9 persen yang dinilai produktif. Pendapatan masyarakat pun masih rendah.
“Per hektare per tahun itu hanya sekitar 600 ribu rupiah, jauh di bawah pengelolaan nonperhutanan sosial yang mencapai 4 juta rupiah. Jika dibandingkan dengan sawit, angkanya lebih kecil lagi. Ini bisa memicu konversi lahan,” ujarnya.
Sementara, Field Finance Manager Fincape, Mindawati Azmi, menjelaskan bahwa salah satu fokus program lembaganya adalah pengembangan nature-based solutions (NBS).
“Kami bekerja dengan IPB University dan Fahutan melalui MoU sejak 2023,” ujarnya. Fincape, sebut dia, juga mendukung pengembangan pusat studi NBS dalam riset air, restorasi mangrove, dan gambut sebagai living lab.
Dengan pendekatan transdisiplin dan fokus pada kehutanan serta lingkungan, ICAN diharapkan menjadi penggerak inovasi solusi berbasis alam untuk mendukung keberlanjutan di Indonesia. (dh)