Inspiring Innovation with lntegrity
Jl. Ulin Kampus IPB
+62 - 251 - 862 - 1667
Mon-Sat: 09:00 - 17:00

FAKULTAS KEHUTANAN DAN LINGKUNGAN SEBAGAI FAKULTAS MASA DEPAN

Faculty of Forestry and Environmant as The Future Faculty

LATAR BELAKANG

Peran dan kiprah Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB akan terus berkembang dan meningkat manakala mampu memposisikan diri secara tepat dalam dinamika perkembangan yang ada. Era Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang dan tantangan yang dapat dioptimalkan untuk mengukuhkan peran dan posisi Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB dalam kancah nasional, regional dan global.

Fakultas Kehutanan IPB telah berumur 57 tahun, dimana perannya dalam membangun kualitas sumberdaya manusia (SDM) yang kemudian para alumninya berkiprah di dunia praktek pembangunan kehutanan di Indonesia telah dikenal dan diakui secara nasional. Demikian pula para tenaga pendidik (dosen) telah melahirkan gagasan-gagasannya dan menyumbangkannya untuk praktek pembangunan kehutanan yang dikenal dan diakui secara nasional. Banyak konsep pengelolaan hutan yang berasal dari Fakultas Kehutanan IPB yang diadopsi oleh pemerintah dan pelaku usaha kehutanan di Indonesia, antara lain konsep TPI (Tebang Pilih Indonesia), multi sistem silvikultur, Perhutanan Sosial, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), dan Kabupaten Konservasi.

Dalam menyelenggarkan Tri-dharma Perguruan Tinggi, Fakultas Kehutanan IPB ikut menyumbang secara signifikan dan berpartisipasi aktif pada gerakan menuju terwujudnya masyarakat madani melalui berbagai upaya yang disusun secara sistematis dan bertahap, menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam lingkungan kehidupan masyarakat pembelajaran (learning society) dan masyarakat pengetahuan (knowledge society). Proses belajar- mengajar yang mendorong terciptanya lulusan dengan daya saing tinggi, dilakukan dengan memformulasikan teknologi yang meramu ranah ilmu teknis dan non-teknis. Pemanfaatan ranah keilmuan lain seperti politik ekologi dan ekonomi politik, sosial, kelembagaan, kebijakan, modal sosial, adalah ranah keilmuan non-teknis yang sudah semestinya diimplementasikan. Oleh karena itu, penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi, termasuk Tri Dharma Fakultas Kehutanan IPB ke depan, harus meracik formula pendidika kehutanan (hard sciences) dan ilmu-ilmu sosial terapan (soft sciences) yang relevan.

Selama lima tahun terakhir (2015-2020) realisasi berbagai kerjasama di bidang pendidikan dan penelitian antara Fakultas Kehutanan IPB dengan pihak lain dari dalam maupun luar negeri telah berjalan. Lembaga mitra kerjasama meliputi pemerintah (pusat, pemerintah daerah), BUMN/BUMS, universitas, organisasi internasional dan lembaga pemerintah negara lain. Staf dosen dan mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB telah terlibat dalam kerjasama penelitian dan pendidikan. Para dosen yang ada di setiap departemen mempunyai spesifikasi keahlian yang sangat beragam, sehingga di tingkat nasional maupun internasional ikut mewarnai setiap karya yang berhubungan dengan spesialisasinya. Berbagai prestasi tersebut merupakan salah satu modal dasar bagi Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB untuk terus mengembangkan kiprahnya sebagai perguruan tinggi kehutanan yang berpengaruh di tingkat nasional dan bertaraf internasional. Untuk itu, diperlukan berbagai upaya untuk mewujudkannya. Berbagai jejaring kerjasama internasional di bidang pendidikan dan penelitian telah dilakukan antara lain dengan universitas-universitas di German, Perancis, Jepang, Korea, ASEAN, dan Asia lainnya. Fakultas Kehutanan IPB telah berusaha agar dapat memperoleh pengakuan internasional melalui proses akreditasi internasional program studi atau departemen diantaranya DHH oleh Society of Wood Science and Techlogy (SWST) Amerika Serikat dan sertifikat Internasional untuk DSVK dan DKSHE oleh ASEAN Univiversity Network-Quality Assurance (AUN-QA). Sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan di tingkat nasional maupun global, sejak bulan Juli 2020 Fakultas Kehutanan telah berganti nama menjadi Fakultas Kehutanan dan Lingkungan berdasarkan SK Rektor No. 128/IT3/OT/2020.

Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB dituntut untuk menjamin terselenggaranya kebebasan akademik, mimbar akademik dan otonomi keilmuan. Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB diharapkan senantiasa mendorong secara konsisten pengembangan berbagai produk unggulan yang mempunya potensi untuk dapat bersaing di tingkat nasional dan internasional. Agar seluruh kebijakan dapat tercapai, maka penyelenggaraan pengembangan akademik harus didukung oleh sistem ketatapamongan yang baik (good governance) berdasarkan evaluasi diri, hasil audit, dan benchmarking, serta mempertimbangkan masukan dari para kelompok ilmuwan di bidang kehutanan (forest scientists) serta lainnya.

Pengelolaan Fakultas selayaknya dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi yang dapat dipertanggung jawabkan dengan memanfaatkan sumberdaya manusia, sumberdaya fisik, dan sumberdaya finansial, secara efisien dan efektif. Agar arah dan proses penyelenggaraan akademik fakultas jelas dan terkendali, Pimpinan Fakultas selayaknya menyusun Rencana Strategis (Renstra) Lima Tahunan secara harmonis dan sinergis. Pencapaian Renstra IPB tergantung dari pencapaian Renstra fakultas, termasuk Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, sehingga capaian Renstra Fakultas Kehutanan dan Lingkungan harus berkontribusi pada Renstra IPB untuk mendukung pencapaian visi IPB 2019-2023 seperti disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Visi IPB dan Renstra IPB 2019-2023 dengan Strategi Pencapaiannya

ISU UTAMA DAN PERMASALAHAN PENDIDIKAN KEHUTANAN

Indonesia selain keindahan alamnya, menjadi perhatian masyarakat global karena ekosistem hutan hujan tropis Indonesia diakui terbesar dan terkaya biodiversitasnya. Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB diharapkan mampu memanfaatkan keunikan posisi geografis Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua samudera dengan keanekaragaman hayati sebagai kekayaan alam.

Masyarakat dunia memberikan perhatian pada manfaat jasa-jasa lingkungan (environmental services) dari ekosistem hutan bagi kehidupan manusia. Berbagai manfaat yang dihasilkan dari ekosistem hutan mencakup bahan makanan, obat-obatan, kayu, serat, dan bio-fuel; pengaturan tata air, rekreasi alam; fungsi dan proses ekologis: dekomposisi, siklus hara, fotosintesis, dan penyerbukan tumbuh-tumbuhan. Kehutanan memiliki posisi yang sangat penting dalam pengendalian perubahan iklim global. Program-program untuk akselerasi pengurangan emisi gas rumah kaca, dari deforestasi dan degradasi hutan, pengelolaan hutan lestari, konservasi hutan dan biodiversitasnya, green economy, dan sebagainya.

Pemanfaatan ekosistem hutan hingga saat ini lebih banyak dilakukan terhadap kayu dan hasil ikutan lainnya. Pemanfaatan terhadap pangan, obat-obatan dan ekowisata baru dalam tahap perkembangan dan belum dilaksanakan secara optimal, demikian pula pemanfaatan bagi biofuel belum dimulai secara intensif. Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB ikut berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan masalah–masalah kehutanan nasional maupun global yang aktual seperti pengelolaan hutan, rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan, dan efisiensi pemanfaatan hasil hutan guna mewujudkan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Namun demikian, fenomena yang tengah dihadapi Fakultas Kehutanan dan Lingkungan saat ini memang sangat kompleks dan dilematis. Wajar saja bila Bill Reading mengatakan dan bahkan menulis “The University in Ruins”. Fakultas sebagaimana universitas menghadapi krisis ganda (doubled crisis). Di satu pihak fakultas menghadapi tuntutan pasar (market force) yang demikian kuat dan di pihak lain banyak fakultas yang lamban merespons (response imbalance) terhadap berbagai perubahan yang terjadi di era disrusi ini.

Semakin kuatnya tekanan yang berasal dari luar dan performa yang belum maksimal dari dalam, menyebabkan fakultas harus berusaha semaksimal mungkin agar bisa tetap kuat. Rising demand yang bahkan beberapa ahli mengatakan demand overloaded dari luar misalnya social responsibility, world of works, link and match, among faculties or university competitiveness, dan bahkan university ranks dalam bentuk akreditasi dan sertifikasi membelit pendidikan tinggi. Sementara itu, performa dari dalam seperti resistance on management, lemahnya inovasi, scarcity of resources, leadership, dan atau belum berfungsinya semua komponen membawa kesulitan tersendiri bagi perkembangan fakultas yang berkualitas. Kondisi ini semakin diperparah oleh anggaran untuk pendidikan tinggi di fakultas yang semakin kecil sementara tuntutan masyarakat akan pendidikan murah dan berkualitas semakin kuat. Beberapa permasalahan dan isu strategis yang berhasil diidentifikasi disampaikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Permasalahan dan Isu Strategis di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan

Permasalahan yang dihadapi Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB terkait dengan isu utama pengembangan pendidikan tinggi nasional yaitu:

  1. Peningkatan daya saing bangsa (nations competitiveness):
    • Kompetensi lulusan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB belum mampu bersaing dalam meraih pasar kerja internasional
    • Penguatan IPTEKS mutahir dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis kehutanan dan bersaing dalam lingkup internasional masih lemah
    • Kontribusi kepakaran dalam mengarahkan kehutanan masih lemah
  2. Peningkatan kesehatan organisasi penyelenggara pendidikan tinggi di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, yaitu
    • Belum optimalnya penguatan kapasitas institusi (institutional capacity building)
    • Sistem penyelenggaraan pendidikan tinggi kehutanan di IPB belum optimal melakukan sistim monitoring dan evaluasi kinerja yang baik
    • Akuntabilitas unit  manajemen  di  Fakultas  Kehutanan  dan  Lingkungan  IPB  dalam pencapaian output, outcome dan objectives belum berjalan dengan baik
    • Profesionalisme sumberdaya  manusia  dalam  organisasi  dan  manajemen  masih  perlu dibenahi
    • Pelaksanaan  jaminan   mutu   penyelenggaraan   pendidikan   tinggi   belum   seluruhnya terselenggara dengan baik
  3. Pendidikan kehutanan masa depan mempunyai banyak tantangan riil, yaitu
    • Dari segi pengelolaan hutan sebagai suatu ekosistem diperlukan berbagai tingkatan sumberdaya manusia (SDM) yang akan mengelola ekosistem hutan
    • Dari segi sumberdaya yang dapat dimanfaatkan dari hutan secara lestari diperlukan berbagai tingkatan sumberdaya manusia yang memahami tiap sumberdaya hayati yang ada di dalam hutan sehingga pemanfaatan yang dilakukan tidak merusak kelangsungan sumberdaya yang ada
    • Dari segi kompetensi yang harus dipunyai oleh pengelola hutan (produksi, konservasi, dan lindung) yang terukur dan diakui secara nasional maupun internasional, maka pendidikan kehutanan harus menyesuaikan dengan KKNI serta perlu dipersiapkan untuk mendapatkan sertifikasi baik secara nasional maupun internasional.
    • Hutan sebagai bagian dari lingkungan hidup maka perlu melihat lingkungan sebagai suatu sistim yang holistik sehingga setiap perubahan yang terjadi pada hutan akan selalu berpengaruh terhadap sistim lingkungan lainnya
    • Pendidikan kehutanan pada masa depan juga harus menyiapkan SDM yang sudah bisa memprediksi kondisi hutan pada masa mendatang dan juga bagaimana menyikapi dengan cepatnya perubahan yang terjadi
    • Globalisasi yang terjadi menuntut pendidikan kehutanan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga kebutuhan SDM kehutanan dalam skala regional maupun global
    • Pendidikan kehutanan saat ini berkembang dan mempunyai variasi kebutuhan yang sangat beragam, walaupun tidak mesti diperlukan departemen dalam jumlah yang banyak

Memang masyarakat hanya melihat aspek keluarannya saja tanpa mau perduli bagaimana prosesnya yang demikian rumit dan dilematis. Fakta banyak “penganggur terdidik” selalu menjadi indikator kualitas lulusan. Oleh sebab itu, keluaran tersebut dapat ditingkatkan kualitasnya baik melalui short-term solution maupun long-term effect yang diprogramkan secara terencana oleh universitas yang tentu saja harus melibatkan fakultas. Dalam hal ini, fakultas harus tetap konsen pada penciptaan knowledge society yang hanya dapat dilakukan dalam atmosfir academic excellent sehingga output kelak dapat berbicara banyak di lapangan.

USULAN PENGEMBANGAN FAKULTAS

Kondisi perguruan tinggi dengan fakultas-fakultasnya dewasa ini menunjukkan gejala ke arah keterpurukan tanpa konsep pengembangan yang jelas termasuk Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB yang kita cintai. Cenderung hanya sekedar dijadikan instrumen mobilitas vertikal masyarakat dalam pengertian yang sederhana, misalnya untuk mendapatkan gelar atau ijazah, lapangan pekerjaan yang mendatangkan finansial yang tinggi. Akibatnya, keberadaan fakultas yang seharusnya menjadi bagian terpenting untuk menggerakkan seluruh aktivitas perguruan tinggi menjadi lemah. Menyadari akan kenyataan, pandangan, pemikiran dan persoalan tersebut di atas, maka diperlukan keberanian untuk melakukan transformasi fakultas dengan mengadakan redefinisi, reorientasi, restrukturisasi secara menyeluruh dan mendasar terhadap pengembangan fakultas ke depan secara berkesinambungan.

Transformasi yang dimaksud untuk menjadikan Fakultas Kehutanan sebagai fakultas yang bermutu harus dengan mengedepankan prinsip continous improvement. Konsep perubahan dengan PDCA (Plan-Do-Check-Act) tersebut di atas merupakan sebuah siklus dan dilakukan dengan menekankan pada perbaikan-perbaikan berkelanjutan (continous improvement) dan setiap yang dikerjakan selalu diawali dengan perencanaan, dan perencanaan tersebut diilhami dengan hasil yang telah dicapai sebelumnya sesuai dengan standar (benchmarking) yang sudah ditetapkan sebelumnya, sehingga ada perbaikan-perbaikan untuk implementasi rencana berikutnya.

Salah satu usulan adalah menjadikan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB sebagai “Fakultas masa depan”. Fakultas masa depan merupakan fakultas yang terdiri dari program studi-program studi favorit yang berkualitas dan mampu menjawab tantangan globalisasi dengan menyiapkan diri untuk menghadapi situasi kebutuhan bangsa di masa depan. Tranformasi dan kriteria menuju fakultas masa depan dilustrasikan pada Gambar 3 di bawah ini.

Gambar 3. Kriteria Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Masa Depan (The Future Faculty)

The Future Faculty memberikan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang ada saat ini dari level fakultas. Untuk itu terlebih dahulu harus ditetapkan kriteria fakultas yang diinginkan, meliputi:

1. Faculty of Future Leaders

Menjadikan fakultas dengan fungsi utama sebuah perguruan tinggi untuk mencetak alumninya yang berkualitas, tak hanya sebagai pencari kerja, namun juga sebagai calon pemimpin bangsa masa depan. Departemen di bawah fakultas difasilitasi untuk membuka atau merestrukrurisasi peminatan atau program studi yang tidak hanya dicari dan dibutuhkan oleh pasar namun berguna untuk menciptakan calon pemimpin masa depan dalam berbagai sektor kehutanan dan lingkungan. Fakultas mendorong dilakukannya Reorientasi Kurikulum dengan pendekatan tiga literasi baru, integrasi hard skills dan soft skills ke dalam struktur kurikulum, memetakan dan memutakhirkan school of thought /aras keilmuan pendidikan IPB dalam perspektif literasi baru melalui penataan program studi multi strata. Penyelarasan proses pembelajaran dilakukan dengan dua pendekatan yaitu sistem “blended learning” dan atau MOOCs (Massive Open Online Courses), ODL (Online Distance Learning), yang pelaksanaan pembelajarannya mengacu pada Sistem Pembelajaran Daring Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemutahiran kecakapan dan keterampilan dosen dalam proses pembelajaran virtual perlu diperkaya yang meliputi penyiapan bahan ajar virtual/elearning bukan sekedar CBI (Computer-based Instruction), pengembangan heutagogik untuk pembelajaran virtual, dan pengembangan rancangan asesmen hasil pembelajaran virtual dalam perspektif ketercapaian LO (Learning Outcome).

2. Center of Excellent Faculty

Melakukan kegiatan riset (penelitian) merupakan sebuah keharusan bagi PT sesuai tridharma perguruan tinggi. Fakultas favorit sudah selayaknya memiliki banyak hasil riset dan publikasi. Fakultas Kehutanan bertindak sebagai Centre of Excelent (Pusat Unggulan) yang memberikan keleluasaan kepada semua dosen di fakultas untuk riset dan publikasi ilmiah dengan menekankan pada kebermanfaatan hasil riset, dan lebih efektif lagi jika dilakukan dengan menjalin kemitraan antara stakeholder fakultas, pemerintah, industri dan masyarakat. Fakultas juga mendorong kepemimpinan dalam penelitian yang mengarah pada penciptaan dampak sosial dan ekonomi yang tinggi. Perluasan interkonektivitas menjadi solusi cerdas dalam menghadapi tantangan-tantangan di era disrupsi. Kerjasama dan kolaborasi di era persaingan global menjadi perhatian Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB dalam memenangkan kompetisi dan menghantarkan inovasinya mendunia.

3.  ICT Based Faculty

Information  and  Communication  Technology  (ICT)  akan  terus  menjadi  teknologi  yang berkembang pesat di masa depan. Fakultas harus segera tanggap menghadapi era Volatility, Uncertaninty, complexity and ambiguity (VUCA), jangan sampai “ketinggalan jaman”. Salah satu ciri dari Revolusi Industri 4.0 adalah munculnya disruptive innovation pada segala lini dan sendi kehidupan yang merubah Pola Pendidikan Global. Disruptive Innovation telah merubah masyarakat dari Industrial Society menjadi Smart Society; merubah gaya hidup dari Time Constraint menjadi Connected dan Timeless; generasi milenial menjadi generasi Creative, Connected,  Fast,  Borderless,  dan  Collaborative.  Institusi  pendidikan  termasuk  Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB dituntut untuk ramah dan mencapai keberhasilan pengembangan bidang teknologi informasi dan komunikasi yang ditandai dengan jaringan internet yang stabil (Ada, Cepat, dan Aman), sistem-sistem yang dibuat terintegrasi satu dengan yang lain, dan terkelolanya big data dan data science bidang kehutanan dengan baik. Menggunakan e-learning dalam blended curriculum system pada proses pembelajaran merupakan keniscayaan.

4. Eco-Friendly Faculty

Menjadikan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB sebagai fakultas yang ramah lingkungan dan hemat energi. Selama ini universitas fakultas menjadi salah satu kontributor utama polusi, limbah dan pemborosan energi. Ke depan diusahakan agar menjadi teladan pertama dalam permasalaan lingkungan dan penghematan energi. Termasuk mengembangkan perilaku sivitas akademika yang berwawasan lingkungan (green Movement), untuk mewujudkan kampus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB yang ramah lingkungan: zero waste, zero emission, rich in bio-and cultural-diversity, serta menciptakan kondisi kampus yang aman, nyaman dan kondusif bagi sistem pembelajaran sukses, serta menunjang program agro-eco-edu-tourism.

5. Faculty for Corps Empowerment, Care and Respect

Peran fakultas di masa depan sebagai pusat pengembangan komunitas di masyarakat sekitar perlu ditingkatkan dalam bentuk pemberdayaan korsa, kegiatan berbasis masyarakat, penguatan pendidikan kewirausahaan dan bisnis secara berkelanjutan melalui pengembangan dan pemutakhiran peran lembaga/organisasi mahasiswa dalam membantu masyarakat bersama mitra kerja maupun pemberdayaan alumni. Saat ini gap (kesenjangan) antar sivitas dan masyarakat semakin terlihat. Salah satu kriteria plus yang perlu dimiliki fakultas terbaik ialah adanya hubungan yang erat antara dosen, karyawan, mahasiswa, serta mayarakat. Dilandasi dengan prinsip saling peduli/melindungi (care) dan saling menghormati (respect). Mengadakan event yang melibatkan warga fakultas secara keseluruhan (family gathering) dalam bentuk diskusi, seminar, ramah tamah.

Without change and innovation, we will be abandoned. Then, the question is whether we are ready or not to drive a change. We have to be ready for it. It’s all about creating a perfect storm of change and doing disruptive innovation, about how technology can reach human insights. In this digitalization era, let’s move together!

EnglishIndonesian