Fakultas Kehutanan dan Lingkungan

0251- 8621677

fahutan@apps.ipb.ac.id

Jalan Ulin, Kampus IPB Dramaga Bogor Jawa Barat 16680
19 Jun 2024

IPB Bersama KLHK dan ITTO Rumuskan Strategi Memperkuat Pasar Domestik dan Mendukung Keberlanjutan Hutan

Industri kayu Indonesia tengah menghadapi peluang besar dengan meningkatnya permintaan pasar, khususnya dalam memenuhi kebutuhan produk kayu rekayasa. Fakultas Kehutanan dan Lingkungan melalui FORCI menyelenggarakan Diseminasi Hasil Penelitian Proyek ITTO PD 928/22 untuk menjawab mitos terkait permintaan kayu yang merusak hutan. Diseminasi ini diadakan di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, pemerintahan, dan praktisi kehutanan pada Kamis [21/12/2024].

Prof. Dr. Ir. Naresworo Nugroho, MS Dekan Fakultas kehutanan dan Lingkungan  IPB saat Menyampaikan Sambutan di Fakultas kehutanan dan Lingkungan IPB pada Kamis [21/12/2024].

Agenda ini menjadi tahapan akhir dari rangkaian kerjasama Fakultas Kehutanan IPB bersama Kementerian Kehutanan dan Lingkungan serta International Tropical Timber  Organization (ITTO). Disampaikan bahwa  produk kayu olahan masih sangat diminati oleh konsumen. Namun, saat ini industri kayu Indonesia sendang mengalami penurunan permintaan pasar luar negeri dan para pelaku industri kayu sedang berupaya untuk memperkuat pasar dalam negeri.  Kerjasama ini ditujukan untuk memperkuat pasar domestik produk kayu dan merumuskan kebijakan pendukung.

Untuk memanfaatkan peluang ini, Bramasto Nugroho salah satu Guru Besar Fahutan IPB dan Tim Ahli dari Riset ini menyebutkan bahwa dibutuhkan iklim usaha yang mendukung perkembangan industri kayu. Faktor-faktor penting yang diperlukan meliputi teknologi yang tepat, kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang memadai, dan kebijakan pendukung yang efektif.

“Diperlukan rumusan kebijakan untuk meningkatkan pasar domestik produk kayu. Rumusan integrasi hulu hingga hilir dalam meningkatkan produksi kayu,” tambah Rina Kristanti selaku Koordinator Proyek ITTO PD 928/22.

Apabila memperhatikan data industri kayu di Indonesia, ternyata pusat Industri Kayu bertumpu di Jawa. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor diantaranya Jawa memiliki infrastruktur memedai, ketersediaan bahan baku dan harga yang kompetitif. Meskipun demikian apabila memperhatikan kapasitas produksi ternyata kapasitas terpasang industri pengolahan kayu jauh lebih rendah dari realisasi produksi untuk industri di atas 6000 m3 maupun di bawah 6000 m3. Hasil studi menunjukkan bahwa bahan baku hanya mampu memenuhi 30-40 persen dari kapasitas terpasang industri. Hal ini terjadi baik secara Nasional, ataupun secra spesifik dijumpai di industri kayu di Jawa Barat dan Banten.

Persoalan yang masih menjadi PR bersama dikemukakan dalam diskusi diantaranya pendataan industri, besarnya permintaan produk kayu dalam negeri maupun aliran rantai pasok yang menghubungkan sumber bahan baku dengan industri. Otoritas pemeritnah yang menangani pendataan jumlah industri di Jawa Barat  dan Banten belum melakukan upaya secara maksimal untuk mendata keberadaan dari industri kecil.

Begitupun aliran perdaganan produk kayu olahan dalam negeri tidak diketahui secara pasti bahkan oleh otoritas yang seharusnya membidangi. Masih dijumpai trafic aliran antara sumber bahan baku dan indsutri yang belum terkoneksi dengan baik, misalnya Industri di Jawa Timur harus mencari bahan baku sampai ke Jawa Barat pun berlaku sebaliknya. Bahkan informasi dari berbagai asosisasi industri kayu yang hadir mengemukakan bahan baku pun dapat didatangkan dari luar jawa meskipun dengan biaya transport yang cukup tinggi.

Dalam agenda ini, hasil penelitian menunjukkan bahwa produk kayu olahan masih sangat diminati oleh konsumen, khususnya responden berusia 26-45 tahun. Produk kayu dinilai lebih fleksibel dalam desain dibandingkan produk substitusi, meskipun konsumen menganggap produk kayu lebih mahal dan sulit didapatkan. Ditekankan bahwa menggunakan produk kayu olahan mendukung kelestarian hutan. Konsumen perlu mendapatkan edukasi bahwa tidak semua kayu berasal dari fungsi hutan yang sama. Ada berbagai jenis hutan dengan tujuan pemanfaatan yang berbeda.

Foto Bersama Peserta Diseminasi Hasil Penelitian di Fakultas kehutanan dan Lingkungan IPB pada Kamis [21/12/2024].

Prof. Sudarsono Soedomo sebagai team leader riset ini menyampaikan juga bahwa akar persoalan rusaknya hutan bukan karena permintaan yang tinggi terhadap produk kayu, namun kejelasan property right hutan adalah faktor penentu. Penciri bahwa permintaan tinggi hutan  tumbuh dapat dijumpai dengan fenomena terus tumbuhnya hutan rakyat di Jawa. Perkembangan hutan rakyat ditunjukkan oleh luasan areal hutan rakyat yang bertambah dari 1,9 jt ha pada tahun 1993 menjadi 2,79 jt ha tahun 2014 (BPKH Wil XI Jawa-Madura dalam Firdaus 2014).

Dalam 5 tahun terakhir Hutan rakyat di Jawa Barat dan Banten berkontribusi besar untuk memasok bahan baku bagi industri kayu masing-masing 91%  dari Hutan rakyat di Jawa Barat dan 97% kontribusi dari Hutan Rakyat di Banten  yang ditunjukkan dalam hasil kajian Tim Fakultas Kehutanan IPB 2023 bekerjasama dengan ITTO. Bahan baku juga masih berasal dari hutan negara yang dikelola oleh Perhutani juga 4% di Jabar dan 1.3% di Banten.

Bahan baku kayu dari Hutan Rakyat lebih banyak digunakan di pasar domestik dibandingkan kayu dari Perhutani, karena harganya lebih murah dan lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Pasar domestik menjadi tantangan bagi pelaku usaha industri kayu lokal karena dibanjiri produk impor yang lebih unggul dalam harga dan desain. Kebijakan yang mengatur produk impor diperlukan agar industri kayu lokal bisa berkembang.

Proyek pembangunan nasional seperti IKN yang mengusung tema keberlanjutan lingkungan seharusnya menjadi peluang bagi industri kayu lokal. Diperlukan kebijakan yang mendukung agar industri lokal lebih mudah memasuki pasar domestik. Selain itu perlu memikirkan secara serius bagaimana industri kayu dapat dikembangkan di luar Pulau Jawa

Penulis : Riski Septia Putri

19 Jun 2024

Bedah Potensi dan Tantangan  Produk Kayu Olahan, ITTO bersama IPB Gelar Lokakarya dan Pameran Inovasi Produk

Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB melalui FORCI menyelenggarakan menyelenggarakan serangkaian kegitan dalam rangka edukasi mengenai produk kayu olahan. Kegiatan tersebut terdiri dari lomba inovasi produk kayu olahan, lomba video edukasi serta lokakarya. Rangkaian tersebut dimaksudkan untuk  menjawab mitos terkait permintaan kayu yang merusak hutan dalam rangkaian agenda Lokakarya dan Ekshibisi dengan tema “Permintaan tinggi Hutan Tumbuh: Potensi dan Tantangan Produk Kayu Olahan”.

Agenda tersebut diselenggarakan atas kerjasama FORCI Fahutan IPB bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)  serta International Tropical Timber  Organization (ITTO) di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB pada Kamis [21/12/2023]. Berbagai kalangan yang berkepentingan dalam agenda tersebut dihadirkan, mulai dari pemerintah, praktisi kehutanan, tenaga pendidik, dan siswa SMA di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten yang mencapai 100 orang.

Inovasi Produk Kayu Olahan Lokakarya dan Ekshibisi “Permintaan tinggi Hutan Tumbuh: Potensi dan Tantangan Produk Kayu Olahan” di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB pada Kamis [21/12/2023].

Latar belakang dilakukan penggalian informasi awal tentang seberapa besar potensi penggunaan produk kayu olahan dalam negeri dipicu oleh lesunya tingkat permintaan ekspor produk kayu olahan di luar negeri. Namun untuk mengembangkan pasar dalam negeri terdapat tantangan yaitu maraknya produk substitusi dari kayu seperti penggunaan besi, baja, alumnium. Maka Langkah pertama adalah mengidentifikasi seberapa besar minat konsumen menggunakan produk kayu untuk dijadikan sebagai kosntruksi, mebel ataupun produk kerajinan.

Upaya untuk menelaah seberapa besar minat konsumen mengetahui produk dalam negeri ternyata diliputi oleh maraknya kampanye yang dapat mengubah persepi orang sehingga tidak menggunakan kayu sebagai pilihan utama. Berbagai mitos yang terus berkembang tentu akan berdampak besar terhadap kelangsungan industri kehutanan.

Mitos yang dimaksud pada agenda tersebut adalah berbagai kampanye mengenai pengurangan penggunaan produk kayu olahan karena dapat merusak hutan. Banyak dari kalangan akademisi, Lembaga swadaya masyarakat, dan media yang memberikan argumen bahwa peningkatan permintaan terhadap produk kayu olahan dapat mengakibatkan deforestasi. Argumen tersebut dinilai kurang tepat dan justru menghambat ruang tumbuh industri kehutanan.

Fakta mengenai tumbuhnya hutan rakyat di Jawa Barat menjadi salah satu jawaban yang menunjukan bahwa argumen tersebut kurang tepat. Pada tahun 2010 diketahui luas hutan rakyat di Jawa Barat sebesar 285.826 ha dan pada tahun 2020 dilaporkan bahwa luas hutan rakyat di Jawa Barat mencapai 612.827 ha (Dishut Provinsi Jawa Barat 2022).

“Faktor penyebab rusaknya hutan bukan permintaan yang tinggi, tetapi kejelasan dan property right yang menentukan hutan dikelola dengan baik. Fakta pada hutan rakyat di Jawa Barat menunjukan hal tersebut.” Ujar Sudarsono Soedomo, Guru Besar Fahutan IPB sekaligus pembicara dalam agenda tersebut.

Agenda lokakarya tersebut diramaikan dengan berbagai produk kayu olahan hasil inovasi mahasiswa dan produk UMKM. Peserta edukasi dapat berinteraksi dengan pembuat produk kayu olahan untuk mengetahui informasi berbagai produk yang ditampilkan. Produk tersebut merupakan hasil karya para peserta lomba inovasi produk yang telah diselenggarakan pada 13 Desember – 21 Desember 2023. Peserta kegiatan edukasi terdiri dari siswa, guru, mahasiswa, akademisi, pemerintah, hingga praktisi melakukan penilaian terhadap produk inovasi dengan berkeliling di ekshibisi tersebut.

Lomba inovasi produk kayu olahan membuktikan bahwa produk kayu dapat diubah dan dikreasikan dalam berbagai bentuk, desain, dan kegunaan sesuai dengan preferensi konsumen yang ada. Kegiatan ekshibisi tersebut memiliki tujuan utama  untuk mendorong dan membangkitkan kembali ketertarikan publik terhadap produk kayu olahan setelah adanya edukasi mengenai penggunaan produk kayu olahan dapat menumbuhkan hutan.

Sesi tanya jawab peserta Lokakarya dan Ekshibisi “Permintaan tinggi Hutan Tumbuh: Potensi dan Tantangan Produk Kayu Olahan” di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB pada Kamis [21/12/2023].

Selain menjawab mitos diatas, agenda tersebut juga menyampaikan hasil riset mengenai minat masyarakat terhadap produk kayu olahan khususnya di Jawa Barat serta ekshibisi inovasi produk olahan kayu.

Karakteristik responden pada riset ini terdiri dari 70,25% responden perempuan dengan umur 26-45 tahun  mendominasi dalam mengisi kuesioner di Provinsi Jawa Barat. Responden lebih tertarik untuk memilih menggunakan kayu bila dibandingkan dengan pilihan menggunakan barang substitusi di mana sebanyak 75% responden memberi nilai 8 (27%), nilai 9 (15%) dan nilai 10 (33%) (Data Primer 2023). Hal ini mengindikasikan bahwa saat ini produk-produk dari kayu masih diminati masyarakat.

Selain itu, hasil survey yang dilakukan menunjukkan 70-80% konsumen masih tetap memilih produk kayu olahan untuk furniture, kebutuhan konstruksi maupun untuk produk kerajinan. Hasil tersebut mematahkan asumsi mengenai produk kayu olahan yang dianggap sudah tergantikan dengan barang substitusi seperti plastik dan besi.

Hal lainnya yang dapat disimpulkan dari riset di atas yaitu gender perempuan dapat menjadi target pasar bagi pelaku industri produk kayu olahan. Bila dihubungkan dengan data responden yang memilih produk kayu olahan karena keunggulannya berupa penampilan yang lebih indah (29%) dan ramah lingkungan (28,%) maka preferensi dari gender yang mendominasi yaitu perempuan dapat menjadi salah satu potensi target pasar bagi industri kayu olahan Indonesia.

Penulis: Hana Nur Tsurayya

Editor: Riski Septia Putri

19 Jun 2024

IPB dan ITTO Edukasi Masyarakat tentang Permintaan Produk Kayu dan Peran Pentingnya dalam Menjaga Hutan: Menjawab Mitos Produk dari Kayu Merusak Hutan.

Sesi edukasi pada Lokakarya dan Ekshibisi dengan tema “Permintaan tinggi Hutan Tumbuh: Potensi dan Tantangan Produk Kayu Olahan” di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB pada Kamis [21/12/2023].

Prof. Sudarsono Soedomo, (Guru Besar Manajemen Hutan IPB) Beserta tim FORCI IPB telah melaksanakan kegiatan edukasi dan sosialisasi kepada Masyarakat mengenai cara pandang penggunaan produk kayu olahan yang bersumber dari hutan negara ataupun hutan rakyat. Kegiatan edukasi ini merupakan rangkaian dari kegiatan riset permintaan produk kayu olahan dalam negeri kerjasama  antara Fakultas kehutanan IPB dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan   International Tropical Timber Organization (ITTO).

Kegiatan ini mengusung tema “Permintaan Tinggi Hutan Tumbuh: Potensi dan Tantangan Produk Kayu Olahan” yang dilaksanakan sebanyak dua kali di dua Lokasi yaitu Bogor dan Banten. Edukasi pertama dilakukan di Kampus IPB Dramaga pada hari Senin [18/12/2023]. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 100 peserta yang berasal terdiri dari  siswa SMA Kelas 10, 11, dan Guru di Jawa Barat. Kegiatan edukasi ini dibuka dengan menampilkan video edukasi hasil peserta lomba edukasi yang merupakan mahasiswa berbagai perguruan tinggi. Peserta lomba memberikan berbagai pandangan mereka melalui video tentang fenomena usaha industri kehutanan.

Selain itu, Peserta lomba juga memberikan informasi publik tentang hutan yang diperbolehkan untuk dimanfaatkan dan perkembangan industri kecil produk kayu olahan. Rangkaian acara edukasi dihadiri perwakilan dari ITTO seperti Project Manager ITTO Bapak Tetra Yanuariadi, Koordinator Proyek ITTO Dr.Rina Kristianti, S.Hut, MSc, serta Kepala Sub direktorat bina pengolahan dan pemasaran hasil hutan Dr. Sudarmalik.

Prof. Dr. Ir. Sudarono Soedomo, MS Guru Besar Manajemen Hutan  IPB saat Menyampaikan materi  di SMA Negeri 4 Kota Serang pada Rabu [13/03/2024].

Edukasi kedua dilakukan di SMA Negeri 4 Kota Serang, Provinsi Banten pada Rabu [13/03/2024]. Kegiatan kedua ini dihadiri oleh 100 siswa beserta guru-guru biologi SMA Negeri 4. Acara ini diawali dengan pertanyaan-pertanyaan menggunakan media slide.doo. Hal ini dilakukan guna melihat pandangan siswa-siswa dan guru sebelum dan setelah dilakukan edukasi terkait cara pandang terhadap produk kayu olahan (produk kehutanan). 

Dalam acara ini peserta sangat antusias mendengar penjelasan dari Pemateri, Prof. Sudarsono Soedomo. Peserta kegiatan aktif memberikan tanggapan kepada pemateri. Hal tersebut menunjukan peserta kegiatan  mulai berpikir terbuka dan menerima pandangan baru yang berbeda dari pandangan umum soal permintaan produk hutan.

Agenda edukasi ini merupakan edukasi kepada publik khususnya di kalangan siswa dan guru tentang cara pandang dalam penggunaan produk dari hutan. Saat ini masyarakat berpadangan bahwa  menggunakan produk kayu, berarti akan merusak hutan. Hal itu dipicu oleh ajakan-ajakan yang kurang tepat seperti “Kertas terbuat dari selulosa yang sumber utamanya kayu. Kayu berasal dari hutan, maka kurangi pemakaian kertas agar hutan tetap lestari.””.

Ajakan tersebut memberikanpersepsi negatif di Masyarakat yang menunjukan seolah-olah penggunaan produk kayu akan merusak hutan. Bahkan berkembang pula dikalangan akademisi bahwa permintaan yang tinggi terhadap produk kayu akan menimbulkan deforestasiMelalui agenda ini Tim FORCI IPB mengajak untuk melihat persoalan secara objektif dan memberikan cara pandang baru, bahwa penggunaan produk kayu olahan justru berpotensi untuk menjaga kelestarian hutan. Prof. Sudarsono Soedomo sebagai team leader riset  menjelaskan materinya yang berjudul “Merawat Hutan Melalui Penggunaan Kayu: Melawan Ajakan Sesat”.

Disampaikan bahwa banyak bertebaran slogan-slogan yang menyesatkan tentang hutan salah satunya “kurangi pemakaian kayu agar hutan tetap Lestari” bahkan slogan tersebut dibuat oleh Lembaga yang sangat beken. Menurutnya slogan tersebut merupakan kesalah berpikir yang fatal.  Bahkan sejatinya apabila dianalogikan seperti pertanian maka peningkatan konsumsi produk seperti padi akan merangsang penyediaan komoditas tersebut sehingga produktivitas dapat meningkat.

“Warung ayam geprek tidak tutup ketika permintaan terhadap ayam geprek tinggi, justru pemilik warung akan terus meminta ayam dari peternak untuk disuplay ke warung agar usaha ayam geprek terus berjalan. Sama halnya seperti hutan maka apabila produk hutan semakin diperlukan maka usaha-usaha yang berkaitan dengan hutan juga akan ditingkatkan.” Ujar Guru Besar Kehutanan IPB itu.

Prof. Sudarsono Soedomo menyampaikan juga bahwa akar persoalan rusaknya hutan bukan karena permintaan yang tinggi terhadap produk kayu, namun kejelasan property right. Beliau mencontohkan property right di hutan rakyat dengan property right pada hutan negara. Hutan rakyat mengalami pertumbuh di lahan milik pribadi.Hal tersebut dikarenakan kepemilikan atas lahan tersebut Jelas, sehingga petani akan menjaga,merawat, dan memanen hutan sesuai kebutuhan serta akan menanam kembali.

Siklus  hutan rakyat tersebut didorong salah satunya oleh  harga pasar kayu yang baik. Selain itu, Petani hutan rakyat merupakan otoritas tunggal dalam memutuskan setiap tindakan dalam mengelola hutan di lahan miliknya. Sedangkan Hutan Negara, ada pemegang izin konsesi serta pemerintah yang memainkan peran. Pemegang izin bukan otoritas tunggal yang memiliki hak dalam menentukan setiap tindakan pemanfaatan hutan. Terdapat berbagai bentuk pengawasan dan kontrol pemerintah yang dilakukan untuk memastikan bahwa pemegang izin melakukan kegiatan pemanfaatan hutan dengan benar.

Apakah kemudian hutan negara terus tumbuh dan berkembang  dengan berbagai kontrol ketat pemerintah, ternyata tidak juga. Dalam dokumen RPJMN revisi tahun 2019 yang diterbitkan KLHK disebutkan bahwa terdapat areal hutan produksi (hutan negara) yang tidak produktif seluas 40 juta hektar.

“Mewujudkan niat baik perlu pemahamaan ilmu pengetahuan yang benar. Waspadalah terhadap setiap ajakan, yang berniat baik dan mulia sekalipun.” Ujar Prof. Sudarsono Soedomo menutup materinya.

Penulis: Ardya Hwardaya Gustawan

Editor : Riski Septia Putri



 

12 Jun 2024

Orasi Ilmiah Guru Besar IPB | Sabtu 22 Juni 2024

Sidang Terbuka Institut Pertanian Bogor dengan acara khusus Orasi Ilmiah Guru Besar pada hari Sabtu, 22 Juni 2024 menghadirkan tiga guru besar dengan masing-masing judul orasi yang akan disampaikan sebagai berikut:

Prof. Dr. Ir. Tri Asmira Damayanti, M.Agr.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS PERTANIAN
“Strategi Pengelolaan Virus Patogen Tumbuhan melalui Integrasi Cara Kultur Teknis dengan Pemanfaatan Bahan Hayati untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan”
(Departemen: Proteksi Tanaman/PTN)

Prof. Dr. Ir. Elis Nina Herliyana, M.Si.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS KEHUTANAN DAN LINGKUNGAN
“Biodiversitas dan Potensi Jamur dalam Kesehatan Hutan dan Lingkungan”
(Departemen: Silvikultur/SVK)

Prof. Dr. Dra. Eti Rohaeti, M.S.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
“Posisi dan Peran Kimia Analitik dalam Menelaah Komposisi dan Struktur Materi”
(Departemen: Kimia/KIM)

Bagi Bapak/Ibu yang ingin memperoleh Sertifikat Keikutsertaan Orasi Ilmiah Guru Besar tersebut, mohon dapat melakukan pengisian Form berikut dengan data yang sebenar-benarnya.

Salam hormat.

Sumber : https://orasi.ipb.ac.id/jadwal_orasi/orasi-ilmiah-guru-besar-ipb-sabtu-22-juni-2024/

12 Jun 2024

Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University Adakan Pelatihan Pendalaman Perhutanan Sosial

Dalam rangka memperkuat Program Perhutanan Sosial (PS) yang menjadi tema inovasi Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, pada tanggal 6-7/6 Fahutan IPB University mengadakan kegiatan Pelatihan Pendalaman Perhutanan Sosial di Ruang Sidang Sylva, Kampus IPB Dramaga, Bogor.

Acara pelatihan diawali dengan sambutan Wakil Dekan bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof Noor Farikhah Haneda. Ia menyampaikan bahwa, “Kabupaten Garut merupakan kabupaten lokasi KKNT dengan program khusus yaitu perhutanan sosial,” jelas Prof Noor.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) IPB University, Dr Handian Purwawangsa mengatakan bahwa pelatihan ini diadakan atas kerjasama antara Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan DPMA IPB University.

“Kegiatan pelatihan ini wajib diikuti oleh mahasiswa yang melaksanakan KKNT di Kabupaten Garut, terdiri dari mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Fakultas Pertanian, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Fakultas Peternakan dan Fakultas Ekologi Manusia,” ujar Dr Handian.

Ia berharap kegiatan pelatihan pendalaman ini dapat memberikan wawasan dan insight baru kepada mahasiswa mengenai program yang akan dilaksanakan pada kegiatan KKNT.

Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber dari Direktorat Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial dan Direktorat Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial serta Direktorat Kemitraan Lingkungan.

Topik yang dibahas pada kegiatan tersebut terdiri dari Penandaan areal batas dan penyusunan peta andil garapan; Penyusunan rencana kelola perhutanan sosial dan pembentukan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS); Identifikasi potensi komoditi unggulan; Peningkatan produktivitas dan kewirausahaan kelompok usaha PS; Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK); serta Pendampingan PS pada KHDPK. (*/Lp)


Sumber : https://www.ipb.ac.id/news/index/2024/06/fakultas-kehutanan-dan-lingkungan-ipb-university-adakan-pelatihan-pendalaman-perhutanan-sosial/



 


12 Jun 2024

Fahutan IPB University Peringati Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, Tanam 300 Pohon Ini

Dalam rangka memperingati Hari lingkungan Hidup se-Dunia, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University melakukan aksi tanam pohon bersama di areal Taman Hutan Kampus IPB Dramaga (9/6). Kegiatan melibatkan 160 peserta dengan menanam sebanyak 300 bibit tanaman hutan dari jenis pohon khaya (Khaya anthotheca), mahoni (Swietenia mahagoni) dan meranti (Shorea sp).

Tema pada kegiatan penanaman kali ini adalah “Tanam Pohon Untuk Turunkan Emisi”. Melalui tema tersebut diharapkan peserta kegiatan penanaman telah berkontribusi dalam upaya menurunkan emisi terutama di lingkungan Kampus IPB Dramaga.

Dekan Fahutan IPB University, Prof Naresworo Nugroho berharap kegiatan tanam pohon bisa menjadi budaya yang melekat pada setiap sarjana kehutanan dan rimbawan. Ia juga mengingatkan pentingnya menanam pohon dan merawatnya untuk menyerap emisi. Menanam pohon juga meningkatkan nilai jasa lingkungan komunitas pohon untuk konservasi keanekaragaman hayati (kehati) dan berperan dalam pendidikan lingkungan.

“Aksi menanam ini seharusnya tidak hanya dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup saja, tetapi harus dilakukan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, dukungan bukan hanya dari mitra, melainkan kesadaran dari civitas akademik dalam bentuk moral sangat diperlukan,” ujarnya.

Dr Nyoto Santoso, Ketua Tim Pengelola Arboretum Taman Hutan Kampus berharap semua warga dan mitra terus meningkatkan kehati di lingkungan Kampus IPB Dramaga. Dengan menanam pohon di lahan kritis merupakan aksi nyata dalam meningkatkan kualitas habitat untuk keyati. Upaya ini juga akan membantu meningkatkan serapan emisi gas rumah kaca dan memberikan nilai manfaat bagi masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri dan diikuti oleh warga Fahutan IPB University. Terdiri dari dosen dan tenaga kependidikan (tendik), serta mahasiswa dari BEM Fahutan, Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (Himakova), Forest Management Student Club (FMSC), Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan (Himasiltan), Tree Grower Community (TGC).

Selain itu, hadir Agrianita Fahutan dan para pelajar/siswa taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan SMA sekitar Kampus IPB Darmaga. Mitra yang hadir, yaitu PT United Tractors Tbk dan Yayasan Karya Bhakti United Tractors. Calon mitra dari PT Astra Daihatsu Motor juga hadir dalam upaya menjajaki peluang kerja sama dengan Fahutan IPB University dalam program Peduli Lingkungan. (*/Rz)


Sumber : https://www.ipb.ac.id/news/index/2024/06/warga-fahutan-ipb-university-peringati-hari-lingkungan-hidup-se-dunia-tanam-300-pohon-ini/



 


02 Jun 2024

Turut Berbelasungkawa Atas Wafatnya Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodiharjo M.S

Keluarga Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB Turut Berbelasungkawa Atas Wafatnya Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, M.S Guru Besar Purnabakti Departemen Manajemen Hutan

Minggu, 02 Juni 2024
Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT dan diampuni segala dosa dosanya.

www.fahutan.ipb.ac.id

#ipbuniversity
#fakultaskehutananipb
#gurubesaripb
#forestenvironm

29 May 2024

Orasi Ilmiah Guru Besar IPB

Sidang Terbuka Institut Pertanian Bogor dengan acara khusus Orasi Ilmiah Guru Besar pada hari Sabtu, 8 Juni 2024 menghadirkan empat guru besar dengan masing-masing judul orasi yang akan disampaikan sebagai berikut:

Prof. Dr. Syartinilia, S.P., M.Si.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS PERTANIAN
“Paradigma Ekologi Lanskap dalam Manajemen Terintegrasi untuk Konservasi Habitat Raptor”
(Departemen: Arsitektur Lanskap/ARL)

Prof. Dr. drh. Aryani Sismin Satyaningtijas, M.Sc.
GURU BESAR TETAP SEKOLAH KEDOKTERAN HEWAN DAN BIOMEDIS
“Manfaat Ilmu Faal dalam Mendukung Program Konservasi Satwa Liar (Dugong dan Kelelawar)”
(SKHB)

Prof. Dr. Ir. Naresworo Nugroho, M.S..
GURU BESAR TETAP FAKULTAS KEHUTANAN DAN LINGKUNGAN
“Pengembangan Pemanfaatan Buluh Bambu dan Bambu Rekayasa Sebagai Bahan Konstruksi Unggul dan Ramah Lingkungan”
(Departemen: Hasil Hutan/DHH)

Prof. Dr. Ir. Anik Djuraidah, M.S.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
“Pemodelan Statistika dalam menanggulangi Kompleksitas Geospasial”
(Departemen: Statistika/STA)

Bagi Bapak/Ibu yang ingin memperoleh Sertifikat Keikutsertaan Orasi Ilmiah Guru Besar tersebut, mohon dapat melakukan pengisian Form berikut dengan data yang sebenar-benarnya.

Salam hormat.

Sumber : https://orasi.ipb.ac.id/jadwal_orasi/orasi-ilmiah-guru-besar-ipb-sabtu-8-juni-2024/

16 May 2024

Orasi Ilmiah Guru Besar IPB

Prof. Dr. Ir. Baba Barus, M.Sc.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS PERTANIAN
“Teknologi Geospasial untuk Inventarisasi, Pemantauan dan Prediksi: Kasus Sumberdaya Lahan dan Tanaman Pertanian”
(Departemen: Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan/ITSL)

Prof. Dr. Ir. Deded Sarip Nawawi, M.Sc.F.Trop.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS KEHUTANAN DAN LINGKUNGAN
“Valorisasi Lignin untuk Diversifikasi Produk dan Efisiensi Pemanfaatan Sumber Daya Hutan”
(Departemen: Hasil Hutan/DHH)

Prof. Dr. Nugraha Edhi Suyatma, S.T.P., DEA.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
“Nanopartikel Seng Oksida dan Potensinya untuk Pengembangan Kemasan Pangan Berbasis Film Bionanokomposit Aktif dan Cerdas”
(Departemen: Ilmu Teknologi Pangan/ITP)

Prof. Dr. Mohamad Rafi, S.Si., M.Si.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
“Perkembangan Terkini Pemisahan Analitik Sebagai Perangkat Analisis Komponen Kimia”
(Departemen: Kimia/KIM)

Bagi Bapak/Ibu yang ingin memperoleh Sertifikat Keikutsertaan Orasi Ilmiah Guru Besar tersebut, mohon dapat melakukan pengisian Form berikut dengan data yang sebenar-benarnya.

Salam hormat.

Sumber : https://orasi.ipb.ac.id/jadwal_orasi/orasi-ilmiah-guru-besar-ipb-sabtu-25-mei-2024/