Fakultas Kehutanan dan Lingkungan

0251- 8621677

fahutan@apps.ipb.ac.id

Jalan Ulin, Kampus IPB Dramaga Bogor Jawa Barat 16680
25 Jan 2023

Kebakaran Lahan Gambut Menyumbang Lebih dari Upaya Konkrit Pencegahan dalam Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Harus Libatkan Masyarakat

Salah satu sumber emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia bersumber dari kebakaran hutan, khususnya lahan gambut sebesar 50.13 persen. Bahkan emisi yang ditimbulkan lebih besar daripada emisi yang bersumber dari penggunaan energi. 

Isu tersebut telah disampaikan oleh Prof Bambang Hero Saharjo, Guru Besar Perlindungan Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University sebagai salah satu narasumber dalam penyelenggaraan Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) COP 27, November 2022 lalu . Ia menjelaskan pengendalian kebakaran hutan dan lahan gambut menjadi sangat penting dilakukan karena selalu dipertanyakan di setiap pertemuan internasional. 
“Kita jangan sekedar melihat penurunan luas kebakaran yang terjadi, namun peningkatan emisi gas rumah kaca di beberapa provinsi juga harus diperhatikan,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat dan pemerintah harus sadar bahwa kebakaran hutan dapat muncul kapan saja dan tidak menunggu apakah kita siap atau tidak dalam menghadapinya. Ia mengungkapkan bahwa di akhir Desember 2022 dan awal Januari 2023, meskipun masih banyak daerah yang sering hujan, namun terdapat kasus kebakaran di beberapa lokasi. Kebakaran terjadi di Sumatera maupun di Kalimantan bahkan ada yang menghanguskan hingga lebih dari 25 hektar lahan. 

“Seharusnya kita tidak selalu menyalahkan El-Nino saat kebakaran terjadi. Sementara saat La-Nina terjadi kita tidak pernah menyatakan bahwa kebakaran yang berkurang itu adalah karena La-Nina. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) telah mengingatkan bahwa La Nina Yang terjadi selama 3 tahun (2020, 2021, dan 2022) sudah berakhir dan akan bergeser menjadi El Nino dalam kurun waktu mendatang,” jelasnya.

Ia mengatakan, pengendalian kebakaran bersifat wajib. Bukan dilatarbelakangi oleh adanya El-Nino atau tidak. Kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu pencegahan, pemadaman, dan penanganan pasca kebakaran. 

Pemadaman kebakaran, menurutnya, merupakan keberhasilan semu karena emisi sudah dilepaskan ke atmosfer. Api juga sudah sebagian besar melalap hutan, termasuk lahan gambut. Bahkan bukan tidak mungkin bahwa percepatan subsiden atau turunnya permukaan tanah gambut akan terjadi dengan cepat karena lahan bekas terbakar tidak segera direstorasi. 

“Bila pencegahan kebakaran hutan sudah dirancang sejak awal secara terencana dan sistematis, maka sesungguhnya persoalan-persoalan itu dapat dikendalikan,” pungkas Prof Bambang.  Ia menjelaskan, masyarakat harus dilibatkan sebagai partner bukan sebagai sparing partner. Berdasarkan hasil kajian dan riset yang telah ia lakukan, bila kelompok masyarakat diajak bersama dalam pengendalian kebakaran sejak awal, maka dapat memberikan implikasi positif. 

“Penanganan pasca kebakaran juga harus dibarengi dengan penegakan hukum yang dikaitkan dengan upaya pemulihan. Penegakan hukum dapat diterapkan melalui sanksi administratif, pidana, maupun perdata. Pelaku kebakaran harus bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan sebagai konsekuensi hukum,” tuturnya.

Ia menerangkan bahwa ia telah lama bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi USA untuk kerjasama penelitian yang didanai oleh NASA. Riset tersebut terkait dengan emisi gas yang dihasilkan selama kebakaran, khususnya kebakaran gambut melalui pengambilan asap kebakaran gambut. Hasil yang sudah terpublikasi di Jurnal Internasional Q1. 

“Riset ini mengungkapkan bahwa asap kebakaran mengandung sekitar 50 persen gas beracun. Gas tersebut sangat berdampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan manusia,” imbuhnya. 

Penelitian tersebut, katanya, dilakukan di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Salah satu gas beracun ini adalah gas furan yang bisa dihisap oleh ibu yang sedang hamil dan dapat mengakibatkan cacat bagi bayi yang akan dilahirkan. Ada juga gas hidrogen sianida yang mematikan.

“Upaya pencegahan kebakaran tidak sekedar dengan mengendalikan dampak negatif yang ditimbulkan tetapi harus turut menjadi pertimbangan setiap stakeholder dan harus sepakat bahwa kejadian ini adalah bentuk kejahatan luar biasa (extra ordinary crime),” tegasnya.

Ia menilai perlu adanya upaya upgrade dari aspek pencegahan dalam pengendalian kebakaran. Upaya ini dapat dibantu oleh ahli dengan bantuan teknologi terkini di antaranya satelit. Dengan begitu, upaya deteksi dan prediksi kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan secara lebih presisi.

Menurutnya, pengembangan teknologi pencegahan kebakaran hutan dalam upaya penegakan hukum kasus kebakaran hutan dan lahan juga merupakan pertanggungjawaban moral sebagai akademisi.

“Selain itu, akademisi juga, harus bersedia bila diminta sebagai ahli di persidangan sebagai bentuk kontribusi terhadap penegakan hukum kebakaran hutan dan lahan gambut. Hal ini dalam rangka menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik sebagai hak konstitusi setiap warga negara,” ujarnya.(MW)

Published Date : 20-Jan-2023

Resource Person : Prof Bambang Hero Saharjo

Keyword : Pakar IPB University, Guru Besar IPB University, kebakaran hutan, lingkungan, kehutanan

SDG : SDG 5 – GENDER EQUALITY, SDG 10 – REDUCED INEQUALITIES, SDG 11 SUSTAINABLE CITIES AND COMMUNITIES

Sumber: https://ipb.ac.id/news/index/2023/01/guru-besar-ipb-university-kebakaran-lahan-gambut-menyumbang-lebih-dari-upaya-konkrit-pencegahan-dalam-pengendalian-kebakaran-hutan-dan-lahan-harus-libatkan-masyarakat/091bf4af383957f63ae494b6b07a5695

19 Jan 2023

Dr Mirza Dikari Kusrini Sebut Indonesia Pengekspor Kaki Katak dan Swike Terbesar di Dunia


.

Keberadaan herpetofauna atau satwa liar jenis amfibi dan reptil sangat penting bagi keseimbangan ekosistem. Herpetofauna berperan dalam menjaga keseimbangan rantai makanan di lingkungan sekitar, tidak hanya di alam liar. Namun demikian, keberadaannya sering dinilai sebelah mata oleh masyarakat.

Dr Mirza Dikari Kusrini adalah Pakar Ekologi Satwa Liar Herpetofauna IPB University yang telah mendalami satwa amfibi dan reptil selama beberapa dekade. Menurutnya, ketidakpopuleran penelitian herpetofauna dikarenakan hewan jenis ini dianggap kurang karismatik. Terutama dibanding satwa liar besar (megafauna) seperti harimau, orang utan atau badak.

“Misalnya spesies kecil seperti kodok buduk di sekitar kampus. Keberadaannya sering dipandang sebelah mata, padahal bagaimana cara hidupnya tidak banyak diketahui oleh masyarakat,” terangnya.
Kodok buduk ini menurutnya merupakan predator dari berbagai serangga yang merugikan manusia seperti rayap dan kecoa.

Selain itu, imbuhnya, beberapa jenis amfibi dan reptil juga diekspor ke mancanegara dalam jumlah besar. Jumlahnya mencapai puluhan ribu ekor sampai jutaan. Sebagai contoh, Indonesia menjadi negara pengekspor kaki katak beku atau swike terbesar di dunia dan angka yang besar ini membuat Indonesia mendapatkan kritik dari pemerhati satwa liar.

“Jumlah yang banyak ini selalu menjadi pertanyaan dari pihak luar karena dikhawatirkan akan mempengaruhi populasi katak sawah. Bahkan ada keinginan dari beberapa pihak di luar negeri agar katak sawah yang diekspor masuk ke dalam appendix 2 CITES yang berarti akan ada pembatasan ekspor,” ujarnya.

Dr Mirza melakukan penelitian menyeluruh mengenai dampak perdagangan kaki katak beku di tahun 2001-2005. Hasil penelitiannya yang sudah berusia 15 tahun ini menunjukkan bahwa angka ekspor hingga puluhan juta ekor ini masih dinilai aman karena jenis yang dipanen adalah katak sawah.

“Data penelitian katak sawah ini, yang dulu dianggap tidak diperlukan, kini sangat berguna sebagai argumen bahwa pemanenan katak sawah di Indonesia masih aman. Saat itu saya melakukan pemodelan untuk melihat populasi katak sawah dengan menggunakan data jumlah telur, kemampuan bertahan hidup, dan bagaimana pemanenan dilakukan,” ungkap Dr Mirza.

Ia menambahkan spesies yang biasanya dipanen seringkali diabaikan. Namun bila keberadaannya hilang tanpa disadari akan menyebabkan ketidakstabilan ekosistem. Selain itu, jenis-jenis yang dianggap biasa ada di sekitar kadang “hilang” tanpa disadari.

Sebagai contoh, Dr Mirza yang sedang melakukan penelitian mengenai ekologi kodok buduk di kampus mengatakan bahwa perubahan yang terjadi di kampus membuat keberadaan kodok buduk semakin sulit ditemui.

Dosen IPB University dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) ini menegaskan, mahasiswa harus turut didorong untuk berfokus pada topik penelitian herpetofauna, bukan sekedar melihat keanekaragaman jenis. Mahasiswa diajak untuk melihat kerentanan konflik antara manusia dan herpetofauna. Sehingga dapat memberikan rekomendasi mitigasi saat menghadapi herpetofauna berbahaya seperti ular berbisa atau buaya.  

“Saya juga mendorong gerakan citizen science untuk mengajak masyarakat umum melaporkan keberadaan amfibi dan reptil melalui aplikasi i-Naturalist di bawah proyek Go-ARK (Gerakan Observasi Amfibi Reptil Kita),” ujarnya.

Caranya terbilang sederhana dan mudah dipahami. Penggunaannya mirip media sosial dengan tambahan data lokasi GPS. Data ini dapat dipakai untuk menunjukkan keberadaan dan status spesies herpetofauna di alam. Proyek ini bahkan berhasil menemukan jenis baru katak pohon di Cagar Alam Leuweung Sancang. (MW/Zul)

Published Date : 17-Jan-2023

Resource Person : Dr Mirza Dikari Kusrini

Keyword : Dosen IPB University, Pakar IPB University, herpetofauna, kehutanan

Sumber : https://ipb.ac.id/news/index/2023/01/dr-mirza-dikari-kusrini-sebut-indonesia-pengekspor-kaki-katak-dan-swike-terbesar-di-dunia/629b809d41afcb143e58e3288c056bdc

19 Jan 2023

Rapat Pleno 1 (2023): 11.01.2023

Agenda

1. Penyampaian Laporan Tahunan 2022 oleh Pimpinan SF

2. Pembahasan kenaikan pangkat/ jabatan 4 orang dosen FAHUTAN

3. Kesan, pesan, dan harapan senior senator yang memasuki purnabakti Prof. Yusuf.
Sudo Hadi

4. Lain-lain, termasuk pengukuran baju batik SF

19 Jan 2023

Rapat Pleno 1 (2023): 11.01.2023

Agenda

1. Penyampaian Laporan Tahunan 2022 oleh Pimpinan SF

2. Pembahasan kenaikan pangkat/ jabatan 4 orang dosen FAHUTAN

3. Kesan, pesan, dan harapan senior senator yang memasuki purnabakti Prof. Yusuf.
Sudo Hadi

4. Lain-lain, termasuk pengukuran baju batik SF

07 Dec 2022

Mahasiswa IPB University Ikuti Kuliah Umum Dosen Tamu, Bahas Penyuluhan Kehutanan

Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University mengadakan kuliah umum dengan mengundang Kepala Pusat Penyuluhan (Kapusluh) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, Dr Sugeng Priyanto. Kegiatan ini sebagai penutup perkuliahan pada Mata Kuliah Penyuluhan Kehutanan dan Pengelolaan Hutan Rakyat.

Sekretaris Departemen Manajemen Hutan, Dr Leti Sundawati menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dr Sugeng Priyanto sebagai dosen tamu dalam kesediaannya memberikan kuliah umum kepada mahasiswa.

Dr Sugeng Priyanto dalam kesempatan itu menjelaskan, penyuluhan merupakan proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnya.

Lebih lanjut ia mengurai, pelaksana penyuluh terbagi atas penyuluh kehutanan aparatur sipil negara (ASN), penyuluh kehutanan swasta, dan penyuluh kehutanan swadaya masyarakat (PKSM) atau penyuluh kehutanan swadaya masyarakat. 

“Melalui PKSM ini, mahasiswa diberikan akses yang lebar untuk melaksanakan praktik sebagai penyuluh ataupun magang untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu yang telah didapatkan di kampus,” sebutnya.

Selain itu, lanjut dia, seorang penyuluh kehutanan harus memiliki sifat HEBAT, yaitu handal, empati, berani, aktif dan tangguh. Penyuluh kehutanan berperan dalam program pembangunan LHK meliputi perhutanan sosial, hutan rakyat, perlindungan hutan dan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), konservasi dan perubahan iklim sekaligus langkah strategis menjawab tantangan zaman. 

Ia juga mengungkap, saat ini terdapat 25.863 desa di dalam dan luar kawasan hutan  atau 34,52 persen dari total 74.910 desa di Indonesia yang perlu diberdayakan. Objek pendampingan tidak sebanding dengan jumlah penyuluh kehutanan yang setiap tahun menurun jumlahnya. Hal itu menjadi tantangan bagi kegiatan penyuluhan kehutanan. 

“Pendampingan menuju era 4.0 dalam pembinaan kelompok tani hutan memiliki tantangan karena perlu inovasi baru dalam pengaplikasian teknologi digital pada pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat,” imbuhnya.

Menurutnya, kolaborasi antar perguruan tinggi dengan pemerintah, khususnya KLHK menjadi penting. Keberhasilan program dari KLHK tak lepas dari kolaborasi berbagai stakeholder, salah satunya perguruan tinggi.

Dr Sugeng juga menawarkan solusi dan kabar gembira bagi mahasiswa. Baginya, peran mahasiswa dalam konteks penyuluhan, khususnya di Departemen Manajemen Hutan, tidak selalu harus menjadi ASN, tetapi bisa menjadi penyuluh PKSM atau penyuluh kehutanan swasta. Hal itu dapat menjadi wadah bagi para mahasiswa yang memiliki minat dan passion dalam bidang penyuluhan.

“Kami dengan senang hati memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar magang di Kelompok Tani Hutan (KTH) yang telah terbentuk sesuai dengan minat masing-masing mahasiswa. Termasuk menyelesaikan studi di lokasi yang telah kita bina dengan memanfaatkan data yang telah ada,” pungkasnya. (*/Rz)

Published Date : 06-Dec-2022

Resource Person : Dr Leti Sundawati, Dr Sugeng Priyanto

Keyword : Penyuluhan Kehutanan, Departemen Manajemen Hutan IPB, Fahutan IPB

Sumber: https://ipb.ac.id/news/index/2022/12/mahasiswa-ipb-university-ikuti-kuliah-umum-dosen-tamu-bahas-penyuluhan-kehutanan/f1dc5b443fda18d7c239504bce2bf5b0

07 Dec 2022

Podcast Sekolah Pascasarjana IPB University Ulas tentang Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika

Sekolah Pascasarjana (SPs) IPB University kembali gelar Podcast SPs IPB University Episode 20. Kali ini mengulas topik tentang program studi (Prodi) Konservasi Biodiversitas Tropika (KVT) Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan), (28/11). Podcast SPs IPB University ini diisi oleh narasumber Ketua Prodi KVT, Prof Yanto Santosa dan dipandu oleh Nur Sulianti Suci Pertiwi, SP sebagai host.

Prof Yanto menyampaikan sejarah berdirinya Prodi ini berawal dari program sarjana pada tahun 1982. Yakni dengan berdirinya Prodi Konservasi Sumberdaya Hutan dan merupakan Prodi pertama di Indonesia. Kemudian sekitar tahun 1990-an Fahutan memiliki program pascasarjana Ilmu Pengetahuan Kehutanan dan memiliki beberapa peminatan. Salah satu di antaranya adalah peminatan pengelolaan hidup alam liar atau wildlife management.

“Pada tahun 2005, selain mengembangkan prodi sarjana, juga mengembangkan prodi pascasarjana. Terdiri dari Prodi KVT dan Prodi Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan (MEJ) untuk program magister dan doktor sekaligus,” ujarnya.

Pada tahun 2020, kedua Prodi tersebut bergabung menjadi satu dan tetap menggunakan nama Prodi KVT, akan tetapi memiliki dua peminatan yaitu peminatan KVT dan MEJ. Dengan penggabungan dua Prodi ini, maka Prodi KVT ini menjadi Prodi yang sangat unik, baik di Indonesia maupun di kawasan ASEAN (Association of Southeast Asian Nations).

“Prodi kami ini sangat penting untuk Indonesia, karena Indonesia merupakan negara kedua terkaya untuk keanekaragaman hayati tropika,” tandasnya.
Prof Yanto menjelaskan dari kurikulum yang sudah disusun, KVT menargetkan lulusan mampu mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam konservasi keanekaragaman hayati.

Ia menambahkan, saat ini kata konservasi sering dimaknai sebagai pelestarian dan perlindungan semata. Padahal konservasi memiliki makna tiga pilar. Yaitu perlindungan pengawetan, pelestarian dan pemanfaatan. Program pemerintah beberapa tahun yang lalu menerapkan paradigma baru pembangunan, yaitu green economy. Di dalamnya terdapat potensi keanekaragaman hayati dan diharapkan dapat menjadi soko guru utama untuk pembangunan dengan pengurangan limbah, emisi dan melibatkan masyarakat.

“Oleh karena itu, keanekaragaman hayati ini tidak hanya bicara masalah kehutanan saja, tetapi lulusan Prodi KVT ini akan dapat bekerja di semua sektor. Seperti pertambangan, perhubungan, pariwisata dan lainnya. Harapan kami, calon mahasiswa SPs IPB University ini sangat tertarik untuk bergabung di Prodi KVT, karena sangat luas dan potensial keanekaragaman hayati yang harus dioptimalkan agar menjadi bernilai secara ekonomi, ekologi serta lingkungan,” lanjutnya.

Prof Yanto menyampaikan, saat ini latar belakang pendidikan yang masuk di Prodi KVT ini sangat beragam. Prodi KVT ini juga menerima lulusan dari bidang hukum, pariwisata serta bidang sosial lainnya.
“Memang akan ada perbedaan ilmu dasar pengetahuan, tetapi tidak perlu kuatir saat ini kami sudah lakukan adanya kuliah persiapan. Sehingga kami dapat menerima hampir di semua bidang pendidikan terutama yang memang dibutuhkan dalam rangka konservasi keanekaragaman hayati, jasa lingkungan, maupun ekowisata,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini Prodi KVT baik program doktor maupun magister sudah terakreditasi B dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Prodi KVT membuka pendaftaran mahasiswa baru dalam dua periode, baik di semester ganjil dan juga semester genap. Prodi KVT membuka 3 jalur pendaftaran, yaitu jalur reguler, by research dan kelas penyelenggaraan khusus. (HBL/Zul)

Published Date : 01-Dec-2022

Resource Person : Prof Yanto Santosa

Keyword : IPB University, Sekolah Pascasarjana, Prodi KVT

SDG : SDG 4 – QUALITY EDUCATION, SDG 15 – LIFE ON LAND

Sumber :

EnglishIndonesian