Fakultas Kehutanan dan Lingkungan

0251- 8621677

fahutan@apps.ipb.ac.id

Jalan Ulin, Kampus IPB Dramaga Bogor Jawa Barat 16680
06 Dec 2022

Turut Menanam dan Merawat Pohon Asuh di area Taman Hutan Kampus IPB University

Bogor. Rabu 16 November 2022 Kembali melakukan kegiatan Penanaman Pohon Asuh di area Taman Hutan Kampus (THK) sekitar Laboratrium Konservasi Eksitu Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Kampus IPB Dramaga Bogor.

Kegiatan kali ini diselenggarakan bersama dengan dukungan program CSR PT Mandiri Sekuritas (Mandiri Sekuritas/Perusahaan) dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Citarum-Ciliwung, sebagai kontribusi dan turut berpartisipasi dalam melestarikan dan mendukung keberlanjutan lingkungan hidup, tidak hanya menanam pohon namun juga ikut memeliharanya untuk memastikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan komunitas masyarakat sekitar.

Lebih kurang 400 bibit pohon antara lain pohon rambutan, nangka, alpukat, matoa, dan durian
dengan melibatkan volunteer gabungan dari PT. Mandiri Sekuritas, BPDAS Citarum-Ciliwung, dan Civitas Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University.

Kegiatan penanaman pohon asuh tersebut dihadiri oleh beberapa perwakilan dari IPB University diantaranya Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan yaitu Dr. Naresworo Nugroho, Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata yaitu Dr. Nyoto Santoso. Selain itu hadir Oki Ramadhana selaku Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas dan Pina Ekalipta selaku Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Citarum-Ciliwung.

Sejalan dengan program pembangunan dan pengembangan Taman Hutan Kampus yang telah diresmikan oleh Rektor IPB pada tahun 2020 lalu bahwa program utama ini adalah sebagai upaya konservasi dan biodiveritas dalam meningkatkan kualitas lingkungan, memberikan manfaat bagi masyarakat dan pada saat bersamaan menanggulangi perubahan iklim.

Sebagai Tanggung Jawab Sosial melalui perwakilan memberikan sambutannya masing-masing untuk selalu berupaya secara nyata serta bersama-sama senantiasa terus membangun, melestarikan dan mendukung keberlanjutan lingkungan hidup kita agar senantiasa terus meningkatkan kualitas lingkungan hidup agar dapat dimanfaatkan secara bersama-sama.(@W)

Sumber: https://kshe.ipb.ac.id/?p=15566

06 Dec 2022

Prof Basuki Wasis: Negara Rugi 30 Ribu Triliun Rupiah Akibat Degradasi Hutan

Hutan hujan tropis di dunia hanya ada di tiga wilayah di dunia. Yakni Amerika Selatan (sekitar 400 juta hektar/ha) berpusat di lembah Sungai Amazon, Brazil, Indonesia dan Malaysia (sekitar 250 juta ha) dan di Afrika Barat (180 juta ha) lembah Sungai Congo sampai Teluk Guyana. 

Hutan hujan tropis merupakan ekosistem klimaks, terdapat setengah spesies flora dan fauna di seluruh dunia. Hutan hujan tropis juga dijuluki sebagai “farmasi terbesar di dunia” karena hampir 1/4 obat modern berasal dari tumbuhan di hutan hujan tropis, penyangga jasa lingkungan terbaik (fungsi tata air/hidroorologis, menyerap karbon dan menghasilkan oksigen) dan menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.

“Berdasarkan hasil paduserasi Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) pada tahun 1999, diperkirakan hutan alam yang terdegradasi mencapai 50 juta ha. Kerusakan hutan sebagian besar karena kegiatan pembalakan liar dan telah menyebabkan kerugian negara dan lingkungan yang sangat besar,” jelas Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Basuki Wasis saat Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah, (24/11). 

Ia menjelasakan, hasil penafsiran citra satelit menunjukkan laju perusakan hutan alam tahun 1985 – 1997 tercatat 1,6 juta ha/tahun, tahun 1997 – 2000 tercatat 2,8 juta ha/tahun. Dan tahun 2000 – 2003 semakin tidak terkendali. 

“Akibatnya, secara materi telah menyebabkan kerugian negara sekitar Rp 30.000 triliun. Sungguh sangat ironis, negara Indonesia yang memiliki sumberdaya alam yang demikian kaya namun pada kenyataannya negara dan rakyatnya banyak yang miskin,” imbuhnya.

Disamping itu, tambahnya, telah terjadi kerusakan lingkungan yang menyebabkan terjadinya bencana banjir, kekeringan, kebakaran, munculnya hama dan penyakit, pemanasan global, tanah longsor dan erosi. Akibatnya, rakyat Indonesia semakin sengsara.

Ia menjelaskan, untuk  mengatasi itu pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden RI Nomor 4 tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Ilegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Seluruh Wilayah Republik Indonesia. Diinstruksikan bahwa semua aparat penegak hukum perlu melakukan percepatan pemberantasan penebangan secara ilegal di kawasan hutan dan peredarannya di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Sementara itu, lanjutnya, kehadiran ahli dan saksi bisa menjadi kunci dalam proses penegakan hukum pembalakan liar dan lingkungan hidup. Para saksi ahli ini dapat mengukur dampak pembalakan liar melalui proses verifikasi atau investigasi.
Menurutnya, hal ini penting karena kerugian atau dampak pencemaranan dan kerusakan lingkungan itu bersifat lintas waktu, lintas generasi, lintas dunia dan bersifat global (dunia). Dengan demikian keterangan ahli berupa bukti ilmiah (scientific evidence) kemudian berproses menjadi bukti hukum.

“Namun, sering terjadi kriminalisasi berupa laporan pidana dan atau gugatan perdata kepada saksi dan ahli. Ini akan membahayakan penegakan hukum lingkungan dan pegiat lingkungan hidup lainnya. Para pelaku teror hukum harus diberikan sangsi hukum yang berat,” ujarnya.

Ia menambahkan, ke depan para pelaku teror hukum harus diberikan sangsi hukum yang berat dan didenda yang besar. Sehingga penegakan hukum kerusakan hutan dan lingkungan dapat berjalan secara baik dan tanpa dihantui rasa takut dan cemas. (Zul)

Published Date : 25-Nov-2022

Resource Person : Prof Basuki Wasis

Keyword : IPB University, Pembakaran Liar, Guru Besar

06 Dec 2022

Prof Bambang Hero: Perancis Punya 200 Ribu Relawan Pemadam Kebakaran Hutan

Prof Bambang Hero, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University mengungkapkan bahwa dalam menangani kebakaran hutan, Perancis melibatkan 200 ribu relawan. Prinsip mereka (Perancis) adalah jangan biarkan api sekecil apapun untuk tumbuh dan berkembang, karena itu akan menjadi masalah.
 
“Pemadaman kebakaran, selain dilakukan oleh pihak profesional juga dilakukan oleh para sukarelawan, dengan total sekitar 200.000 orang. Para sukarelawan ini tentu saja terlatih karena diberikan pelatihan sebagaimana mestinya,” ujarnya saat mengikuti Fire Behavior Analysts Training, (28/11-1/12) di Valabre, Kota Marseille, Perancis.
 
Pelatihan ini merupakan bagian dari kerjasama antara IPB University dan Kedubes Perancis di Jakarta. Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan berbagai materi tentang pengendalian kebakaran yang dilakukan pemerintah Perancis mulai dari periode tahun 1973- an hingga tahun 2022.
 
“Tampak dengan jelas bagaimana perubahan secara signifikan yang dilakukan pihak Perancis yang dilakukan sejak masa transisi tahun 1980 hingga saat ini. Berbagai taktik, strategi dan teknologi digunakan dalam pengendalian kebakaran dengan mengedepankan tiga aspek utama dalam pemadaman. Yaitu penyelamatan terhadap manusia, perumahan dan lingkungan. Berbagai regulasi juga ditampilkan termasuk upaya penegakan hukum yang secara tegas dilakukan,” jelasnya.
 
Selama pelatihan di Valabre, lanjutnya, para pengajar/pemberi materi adalah para aktor di lapangan yang melakukan kegiatan pemadaman kebakaran langsung. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan proses simulasi pemadaman kebakaran hutan. Mulai dari penerimaan informasi awal, pemprosesan permintaan, pengiriman peralatan termasuk penggunaan helikopter, pembahasan terhadap perkembangan yang terjadi termasuk intervensi kegiatan yang dilakukan hingga konferensi pers.

“Semua dilaksanakan seperti nyata dengan menggunakan peralatan canggih sesuai dengan saat kejadian. Selain itu kami dibawa juga masuk ke dalam laboratorium pengujian “retardant’ (cairan yang menghambat perkembangan laju api). Kami juga berkunjung ke pusat krisis regional yang menangani berbagai masalah bencana termasuk kebakaran hutan,” tambahnya.

Di pusat krisis ini, lanjutnya, terlihat jelas bahwa ketika pemadaman dilakukan maka upaya pemadaman dilakukan secepat mungkin dengan melibatkan berbagai peralatan yang dibutuhkan. Yang menarik adalah ketika kebakaran makin besar misalnya, maka seluruh pihak yang terlibat termasuk polisi, ikut terlibat dalam penanganannya termasuk para ahli terkait yang akan bekerja bersama-sama dalam menyelesaikan masalah.

“Pusat crisis center ini di seluruh Perancis terdapat di tujuh wilayah regional. Selain itu untuk memastikan penanganannya pada wilayah setingkat kabupaten maka kami berkesempatan juga mengunjunginya untuk mendapatkan pencerahan. Yang menarik adalah setiap hari mereka menerima laporan lebih dari seribu permintaan dari warga untuk minta pengecekan atau membantu memecahkan masalah, yang kemudian diarahkan oleh pihak pusat krisis kabupaten kepada instansi terkait,” jelasnya.

Menurutnya, semua laporan tersebut tercatat, termonitor dan terimplementasi dengan baik. Terlihat sekali semua celah itu bisa pantau dari pusat krisis ini, layaknya seperti ikan dalam akuarium, tidak ada yang tidak terpantau.  “Ini adalah pelatihan dan kunjungan yang berkelas, karena menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap upaya pengendalian kebakaran dengan target menghentikan kebakaran secepat mungkin,” tandasnya. (**/Zul)

Published Date : 06-Dec-2022

Resource Person : Prof Bambang Hero

Keyword : IPB University, Kebakaran Hutan, Perancis, Fahutan IPB

Sumber : https://ipb.ac.id/news/index/2022/12/prof-bambang-hero-perancis-punya-200-ribu-relawan-pemadam-kebakaran-hutan/c225a9c770ed87712139256db31e23b4

05 Dec 2022

Fire Behavior Analysts Training di Fahutan IPB University, Diikuti Sejumlah Negara ASEAN dan Asia

Sebagai realisasi kerjasama antara IPB University dengan Kedutaan Besar (Kedubes) Perancis di Jakarta dan The Civil Protection Regional Expert yang bermarkas di Kedubes Perancis di Singapura, telah dilakukan Fire Behavior Analysts. Ketua tim pelaksana kerjasama, Prof Bambang Hero Saharjo mengatakan, peserta training kali ini tidak hanya yang berasal dari Indonesia saja, tetapi juga berasal dari sejumlah negara Asia Tenggara dan Asia.

Ia menerangkan, jumlah peserta yang hadir hingga saat penutupan yaitu 21 orang. Sejumlah peserta tersebut meliputi 17 orang wakil dari Indonesia. Mereka berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat, Kesatuan Pengelolaan Hutan Kubu Raya Kalimantan Barat, Balai Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) Kalimantan, BPBD Jambi dan Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

“Sementara peserta dari Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) merupakan wakil dari Thailand dan Laos. Selain itu hadir pula sebagai observer dari Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) yang berkantor di Korea Selatan. Para pengajar seluruhnya adalah ahli kebakaran hutan dari Perancis dan pelatihan dilaksanakan secara daring,” ujar Prof Bambang.

Lebih lanjut ia menjelaskan, materi pelatihan yang diberikan di hari pertama antara lain tentang Fire Behavior Analysts. Di antara yang dibahas adalah mengapa perlu analisis perilaku api; penggunaannya di Amerika, Australia dan Eropa dan lain-lain. Pada hari kedua dibahas tentang pola-pola kebakaran hutan, beberapa hal yang dibahas di antaranya tentang deskripsi terjadinya kebakaran dengan beberapa faktor pendorongnya; pengumpulan data dan analisis meliputi cuaca, bahan bakar dan topografi.

“Pada hari ketiga yang dibahas adalah tentang analisis kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia, diantaranya membahas tentang faktor pendorong utama kebakaran berlanjut dan bagaimana mengumpulkan data lapangannya serta metode analisisnya yang meliputi Campbel Predictions System dan Metode Polygon,” ujar Prof Bambang. 

Sementara di hari keempat, lanjutnya, materi yang dibahas adalah tentang fire safety di antaranya adalah perilaku kebakaran ekstrim serta cara mengendalikannya. Para peserta juga diberikan kuesioner sebagai bahan umpan balik. Mereka juga mendapatkan sertifikat pelatihan Fire Behavior Analysts yang diberikan langsung oleh Kedubes Perancis. (*/Rz)

Published Date : 05-Dec-2022

Resource Person : Prof Bambang Hero Saharjo

Keyword : Fire Behavior Analysts Training, Kedubes Perancis, Fahutan IPB

SDG : SDG 4 – QUALITY EDUCATION, SDG 15 – LIFE ON LAND, SDG 17 PARTNERSHIPS FOR THE GOALS

Sumber : https://ipb.ac.id/news/index/2022/12/fire-behavior-analysts-training-di-fahutan-ipb-university-diikuti-sejumlah-negara-asean-dan-asia/05023f6fd79d21a5cc2a1a8235966393

29 Nov 2022

Orasi Ilmiah Guru Besar IPB | Sabtu, 10 Desember 2022

Sidang Terbuka Institut Pertanian Bogor dengan acara khusus Orasi Ilmiah Guru Besar pada hari Sabtu, 10 Desember 2022 menghadirkan tiga guru besar dengan masing-masing judul orasi yang akan disampaikan sebagai berikut:

Prof. Dr. Ir. Mohammad Imron, M.Si.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
“Perspektif Perikanan Tangkap yang Unggul dan Berkelanjutan di Indonesia”

Prof. Dr. Ir. Ulfah Juniarti, M.Agr.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS KEHUTANAN DAN LINGKUNGAN
“Penerapan Bioteknologi dan Genomik dalam Pemuliaan Sengon (Falcataria moluccana) Resisten Terhadap Hama Boktor dan Penyakit Karat Tumor”

Prof. Dr. Ir. Illah Sailah, M.S.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
“Peran, Tantangan Teknologi Proses, dan Prospek Masa Depan Pengembangan Agroindustri Berkelanjutan”

Dengan demikian, kami persilakan kepada Bapak/Ibu yang berminat atau berkenan menghadiri Orasi Ilmiah Guru Besar tersebut untuk dapat melakukan pengisian Form Pendaftaran Peserta terlebih dahulu dengan data yang sebenar-benarnya.

Salam hormat.

Sumber : https://orasi.ipb.ac.id/jadwal_orasi/orasi-ilmiah-guru-besar-ipb-sabtu-10-desember-2022/

29 Nov 2022

Orasi Ilmiah Guru Besar IPB | Sabtu, 10 Desember 2022

Sidang Terbuka Institut Pertanian Bogor dengan acara khusus Orasi Ilmiah Guru Besar pada hari Sabtu, 10 Desember 2022 menghadirkan tiga guru besar dengan masing-masing judul orasi yang akan disampaikan sebagai berikut:

Prof. Dr. Ir. Mohammad Imron, M.Si.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
“Perspektif Perikanan Tangkap yang Unggul dan Berkelanjutan di Indonesia”

Prof. Dr. Ir. Ulfah Juniarti, M.Agr.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS KEHUTANAN DAN LINGKUNGAN
“Penerapan Bioteknologi dan Genomik dalam Pemuliaan Sengon (Falcataria moluccana) Resisten Terhadap Hama Boktor dan Penyakit Karat Tumor”

Prof. Dr. Ir. Illah Sailah, M.S.
GURU BESAR TETAP FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
“Peran, Tantangan Teknologi Proses, dan Prospek Masa Depan Pengembangan Agroindustri Berkelanjutan”

Dengan demikian, kami persilakan kepada Bapak/Ibu yang berminat atau berkenan menghadiri Orasi Ilmiah Guru Besar tersebut untuk dapat melakukan pengisian Form Pendaftaran Peserta terlebih dahulu dengan data yang sebenar-benarnya.

Salam hormat.

Sumber : https://orasi.ipb.ac.id/jadwal_orasi/orasi-ilmiah-guru-besar-ipb-sabtu-10-desember-2022/

28 Nov 2022

Kuliah Umum MK Penilaian Hutan

REDD+ dalam Pencapaian Target #NDC dan Nilai Ekonomi #Karbon

REDD+ tidak hanya mencakup pengurangan gas rumah kaca (GRK) tetapi juga melibatkan peran dari konservasi, manajemen hutan yang berkelanjutan, dan peningkatan stok hutan karbon. Proses penerapan REDD+ menitikberatkan pada keterlibatan para pemangku kepentingan. Bagaimana kontribusi REDD+ dan perkembangannya di Indonesia?

Departemen Manajemen Hutan IPB University kembali menyelenggarakan Kuliah Umum dari bagian perkuliahan MK. Penilaian Hutan, menghadirkan Narasumber Franky Zamzani, S.Hut, M.Env (Kepala Subdirektorat Pemantauan Pelaksanaan Mitigasi, Direktorat Mitigasi Perubahan Iklim, KLHK) dengan tema “Kontribusi REDD+ dalam Pencapaian Target NDC dan Nilai Ekonomi Karbon (NEK)” yang akan dilaksanakan pada:

📆Hari/Tanggal: Selasa, 29 November 2022
🕖Pukul: 07.00 – 09.00 WIB
📍Tempat: Zoom Meeting
ipb.link/kuliahumum-penhut

Kuliah ini terbuka untuk umum!
Terima kasih.

16 Nov 2022

Fahutan Training Series (FTS) 2022

Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University kembali melaksanakan Fahutan Training Series (FTS) 2022 pada 12/11. Pada pekan ketiga sekaligus seri terakhir FTS 2022, diusung tema “Implementasi Teknik Bertahan Hidup di Hutan”. 

Prof Noor Farikhah Haneda, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fahutan IPB University mengatakan, peserta dibekali mengenai pengetahuan dasar dalam bertahan hidup di hutan. 

Pengetahuan dasar tersebut meliputi etika berkegiatan di lapang, pembuatan dan pengaplikasian simpul, pembuatan bivak/shelter dan pengenalan satwa liar. Kegiatan dipandu oleh Rayhan Sulthan Nainawa, SHut (Rimbawan Pecinta Alam Fahutan IPB University). 

Selanjutnya, Naufal Hilmi Farosandi, SHut (Bhumi Pasa Hijau) menjelaskan mengenai praktik mendirikan tenda dilanjut mobilisasi ke lapang untuk kegiatan camping yang bertempat di Lapangan Gedung Tanoto Fahutan IPB University. Para peserta FTS 2022 dilatih untuk mendirikan tenda di lapangan dengan mengoptimalkan kerjasama tim yang dipimpin oleh Anderson Lubis, mahasiswa Departemen Silvikultur, Fahutan Angkatan 58.

“Setelah tenda berdiri, kegiatan dilanjutkan dengan memasak bersama dengan bekal bahan makanan mentah yang telah panitia tugaskan. Sebelumnya, para peserta telah dibekali uang saku untuk membeli kebutuhan bahan makanan mereka selama kegiatan. Hal tersebut bertujuan untuk mengaplikasikan teknik manajemen perjalanan dalam berkegiatan di lapang,” ujar Dr Noor Farikhah.

Selama kegiatan camping, peserta FTS 2022 diberi pengetahuan sekaligus praktik mengenai materi analisis vegetasi. Materi tersebut merupakan kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh seorang rimbawan. Hal ini juga ditujukan guna menunjang pengetahuan serta pengalaman di dunia perkuliahan maupun dunia kerja nantinya.

Pada pekan sebelumnya, kegiatan FTS 2022 diisi dengan materi terkait Sistem Informasi Geografis (SIG) oleh Robi D Waldi, SHut, MSi (Yayasan Rimbaraya Indonesia), Manajemen Perjalanan Lapang oleh Rayhan Sulthan Nainawa, SHut dan Resection Intersection oleh Naufal Hilmi Farosandi, SHut. (*/Rz)

Published Date : 15-Nov-2022

Resource Person : Prof Noor Farikhah Haneda

Keyword : Fahutan Training Series, Fahutan IPB, Teknik Bertahan Hidup di Hutan

Sumber : https://ipb.ac.id/news/index/2022/11/mahasiswa-fahutan-ipb-university-belajar-teknik-bertahan-hidup-di-hutan/4f0873a9c73198186ab4ba25fa574ec8

16 Nov 2022

Kiprah Dosen dan Mahasiswa IPB University di Universitas Montpellier Perancis Bicara Soal Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo dan Prof Lailan Syaufina bertolak ke Universitas Montpellier, Perancis. Rencananya, dua profesor IPB University ini akan berada di Perancis hingga 10 Desember 2022.
 
“Ada dua orang mahasiswa Program Magister Sekolah Pascasarjana IPB University dari Program Studi Silvikultur Tropika yang lolos seleksi untuk melanjutkan studi selama satu tahun di Universitas Montpellier. Diharapkan mereka akan mendapatkan ijazah S2 dari IPB University dan Perancis. Kedua mahasiswa tersebut mengikuti program Magister Internasional khusus tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan yang diseleksi Paris Sciences & Letters (PSL) University,” jelas Prof Bambang.
 
Ia menambahkan, dalam program ini, para pengajarnya adalah dosen dari IPB University, Indonesia, University of Brasilia, Brasil, University of Lleida, Spanyol, University of Aveiro, Portugal, para peneliti dan praktisi. Seperti di Indonesia, mereka mengikuti kuliah, praktik, ujian, serta mengunjungi tempat-tempat penelitian, pelatihan dan lain-lain yang terkait dengan materi kuliah yang mereka terima.
 
“Sebagai dosen pengajar dalam program ini, saya dan Prof Lailan diundang oleh PSL University untuk mengajar dari tanggal 6 November hingga 10 Desember 2022 di Universitas Montpellier, Perancis dengan beasiswa dari Campus France. Tugasnya adalah memberikan materi kuliah terkait pengendalian kebakaran hutan dan lahan kepada mahasiswa program khusus tersebut,” ujar Prof Bambang.
 
Selain itu, tambahnya, mereka juga mendampingi mahasiswa selama mengunjungi pusat-pusat penelitian dan pelatihan, selama berada periode waktu yang diberikan. Hal ini perlu dilakukan untuk membuat mahasiswa tidak salah dalam memahami terjadinya kebakaran dan upaya pengendaliannya, mengingat Perancis memiliki 4 musim sementara Indonesia hanya 2 musim.
 
“Beberapa faktor yang menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran di Perancis adalah tidak hanya manusia tetapi bisa saja bersumber dari alam seperti petir. Sementara di Indonesia, 99,9 persen penyebabnya adalah manusia,” tuturnya.

Ia menambahkan, kebakaran lahan gambut di Indonesia menjadi perhatian banyak pihak karena emisi gas rumah kaca yang dihasilkan serta sulitnya pemadaman dilakukan. Sementara kebakaran hutan di Perancis tidak banyak mendapatkan perhatian.

“Program khusus Magister Internasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan ini akan terus berjalan. Pesertanya diharapkan akan berkembang dari negara-negara yang mempunyai masalah tentang kebakaran hutan dan lahan,” jelas Direktur Eksekutif Regional Fire Management Resource Center-Southeast Asia ini.

Program ini merupakan bagian dari kerjasama IPB University dengan Kedutaan Besar Perancis di Jakarta di bawah koordinasi Mr Jean Michel Dumaz, The Civil Protection Regional Expert yang bermarkas di Kedubes Perancis di Singapura. Kerjasama ini berjudul Rain Forest and Peatland Fires Center of Excellent yang dilaksanakan sejak tanggal 29 Juni 2022. Kerjasama akan berlangsung hingga 2026. (Zul)

Published Date : 15-Nov-2022

Resource Person : Prof Bambang Hero Saharjo dan Prof Lailan Syaufina

Keyword : Kebakaran Hutan, IPB University, Fahutan

Sumber : https://ipb.ac.id/news/index/2022/11/kiprah-dosen-dan-mahasiswa-ipb-university-di-universitas-montpellier-perancis-bicara-soal-pengendalian-kebakaran-hutan-dan-lahan/1b2fdb08ddaf62163c313f51c61637d2

EnglishIndonesian