Fakultas Kehutanan dan Lingkungan

0251- 8621677

fahutan@apps.ipb.ac.id

Jalan Ulin, Kampus IPB Dramaga Bogor Jawa Barat 16680
23 Jun 2022

SERTIFIKASI PROFESI GUNA TINGKATKAN KOMPETENSI SILVIKULTURIS

Lembaga sertifikasi profesi (LSP) Agribisnis Ambissi kembali berkolaborasi dengan  Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University menyukseskan Program Sertifikasi Kompetensi Kerja (PSKK) 2022 untuk bidang perbenihan tanaman hutan. Perbenihan tanaman hutan merupakan salah satu dari 55 skema sertifikasi kompetensi yang dimiliki LSP Agribisnis Ambissi. LSP Agribisnis Ambissi sendiri merupakan lembaga sertifikasi profesi berlisensi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) yang kredibilitasnya tidak lagi diragukan.

Kegiatan asesmen ini diikuti oleh berbagai latar belakang profesi berbeda, yaitu mahasiswa dan dosen Departemen Silvikultur, tenaga pendidik Universitas Hasanuddin, dan beberapa karyawan perusahaan yang bergerak di bidang perbenihan hutan. Asesmen dilaksanakan dalam 3 skema berbeda dengan kuota masing-masing skema sebanyak 20 orang. Skema tersebut di antaranya yaitu pembuat bibit generatif, pelaksana penanganan benih tanaman hutan, dan pemeriksa mutu benih dengan waktu pelaksanaan berturut-turut pada tanggal 28 Mei 2022, 29 Mei 2022, dan 4 Juni 2022.

Dalam pelaksanaannya, para asesi melakukan 2 sesi ujian -ujian tertulis dan ujian praktik-. Kegiatan secara offline ini dilaksanakan di Ruang Sidang Ulin, Departemen Silvikultur untuk ujian tertulis sedangkan ujian praktik dilaksanakan di dua lokasi berbeda, yaitu Persemaian Permanen Dramaga untuk skema 1 dan Laboratorium Silvikultur Terpadu untuk skema 2 dan 3.

            Manajer LSP Agribisnis Ambissi mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Departemen Silvikultur, “Kami sangat berterima kasih kepada Departemen Silvikultur dan semoga sertifikatnya dapat bermanfaat ke depannya, dan harapan ke depannya mungkin bisa dirancang untuk menjadi tempat uji kompetensi (TUK) tetap yang di Departemen Silvikultur,” ujar Bapak Sunarbowo. Berakhir dan berhasilnya kegiatan ini sudah tentu mengharapkan para asesi mampu menggunakan sertifikat yang didapatkan dengan sebaik mungkin, rangkaian kegiatan sertifikasi pada bidang yang telah dipilih dan diikuti dapat ditekuni dan diterapkan secara profesional.

SDGs:

SDG 4 – Quality Education

SDG 8 – DECENT WORK AND ECONOMY GROWTH

02 Jun 2022

Departemen Silvikultur IPB University Undang Profesor dari Spanyol Berbagi Pengalaman Sukses Implementasi Sistem Agroforestri

Departemen Silvikultur (DSVK), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University berkolaborasi dengan International Collaboration Office IPB University mengundang Prof Ignacio Javier Diaz-Maroto Hidalgo dari Departemen Agroforestry Engineering, University of Santiago de Compostela (USC), Spanyol. Prof Ignacio berbagi pengalaman melalui acara Kuliah Tamu Internasional. Acara dengan tema “Agroforestry System in Spain: Research Status & Challenges” diadakan secara hybrid dari Smart Class Room Fahutan dan Zoom meeting, 25/5.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Ignacio bercerita kesuksesan implementasi sistem agroforestri di Spanyol, utamanya pada area konservasi. Ia mengaku, banyak tantangan yang dihadapi terlebih beberapa ekosistem di Spanyol mengalami desertifikasi.  “Masyarakat lokal juga turut terlibat dalam upaya perwujudan kelestarian sistem agroforestri dengan memperhatikan aspek lingkungan, produksi dan sosial,” katanya.

Acara Kuliah Tamu Internasional ini dibuka oleh Ketua Departemen Silvikultur, Dr Omo Rusdiana dan dipandu oleh Dr Adisti Permatasari Putri Hartoyo selaku moderator. Antusiasme peserta yang tinggi terlihat dari banyaknya peserta yang memberikan pertanyaan juga tanggapan. 

Dr Adisti menyampaikan dengan adanya kuliah tamu internasional ini diharapkan dapat memperluas wawasan keilmuan para peserta terkait implementasi sistem agroforestri di Eropa. Ia menyebut, kuliah ini juga diharapkan dapat menstimulasi terciptanya ide dan inovasi agroforestri di Indonesia, serta memperkuat jejaring dan kerja sama internasional. (*)

31 May 2022

Guru Besar IPB University: Kebakaran Lahan Gambut 100 Persen Akibat Ulah Manusia

Prof Lailan Syaufina, Guru Besar Tetap pada Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University mengatakan bahwa Kebakaran Hutan (Karhutla) itu 99 persen akibat ulah manusia dan 1 persen karena faktor alam.

Dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah, (24/3) dengan materi berjudul Era Baru Pengendalian Kebakaran Lahan Gambut: Inovasi Tekno-Sosio Mitigasi Karhutla, Prof Lailan mengungkapkan beberapa fakta.
“Khusus Karhutla gambut, 100 persen oleh manusia. Mitigasi untuk faktor alam, lebih ditekankan pada pengurangan risiko Karhutla. Tapi yang paling penting adalah mencegah Karhutla oleh manusia,” ujarnya. 

Menurutnya, mitigasi Karhutla ini harus melalui pendekatan sosial, termasuk mencari solusi bagi perambah hutan. Dalam hal ini, penegakan hukum untuk perambahan hutan dapat dilakukan. Selain itu, perlu upaya pemberdayaan para perambah hutan dalam pengelolaan hutan/lahan gambut.

“Selain itu, dalam dua tahun terakhir (2020-2021), luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menurun tajam. Diperkirakan karena adanya pandemi COVID 19 berpengaruh pada penurunan ini. Hal ini didukung dengan penguatan upaya pencegahan Karhutla yang menjadi prioritas kebijakan Pemerintah Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berbeda dengan kebakaran lahan non gambut, kebakaran lahan gambut sulit dideteksi dan dipadamkan, karena api menjalar di bawah permukaan.  Dampak kebakaran lahan gambut yang paling signifikan adalah dampak emisi dan kabut asap.  

“Emisi karbon dan emisi partikel kebakaran lahan gambut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kebakaran lahan non gambut. Ini karena kebakaran lahan gambut didominasi oleh fase smoldering yang tidak sempurna, sehingga menghasilkan emisi partikel yang tinggi yang bersatu dengan uap air hasil pembakaran yang menyebabkan kabut asap,” jelasnya. 

Menurutnya, belajar dari kejadian Karhutla pada tahun 2015, Pemerintah Indonesia telah melakukan perubahan paradigma dalam pengendaliannya. Saat ini prioritas pengendalian Karhutla adalah pada pencegahan. 

“Untuk membantu pemerintah dalam upaya pencegahan Karhutla, Tim Riset IPB University telah mengembangkan beberapa inovasi. Antara lain menciptakan sistem yang mampu memprediksi Karhutla gambut dalam waktu dua bulan sebelum terjadi kebakaran. Membuat Peta Kerawanan Karhutla. Peta ini memasukkan unsur gambut dan mengklasifikasikannya dalam empat tipologi,” jelasnya.

Prof Lailan dan tim juga membuat kriteria hotspot sebagai indikator kuat Karhutla, membuat formulasi tingkat keparahan Karhutla, membuat aplikasi mobile dan web Sistem Informasi Patroli Pencegahan Karhutla (SIPP Karhutla), penggunaan IoT (Internet of Things) dalam monitoring lahan gambut untuk dimanfaatkan dalam sistem peringatan dini Karhutla.

Di samping itu, lanjutnya, untuk pendekatan sosial, ada beberapa program yang sudah diimplementasikan. Seperti pembentukan MPA (Masyarakat Peduli Api), Program Desa Mandiri Peduli Gambut, Program Desa Bebas Asap, Program Desa Makmur Bebas Api dan sebagainya. 

“Integrasi antara pendekatan teknologi dan pendekatan sosial dapat dirumuskan sebagai Konsep NO SMOKE (Inovasi Tekno-Sosio Mitigasi Karhutla),” tandasnya. (Zul)

Published Date : 19-May-2022

Resource Person : Prof Prijanto Pamoengkas

Keyword : IPB University, Silvikultur, Guru Besar IPB, Fahutan IPB

SDG : SDG 4 – QUALITY EDUCATION, SDG 9 – INDUSTRY, INNOVATION AND INFRASTRUCTURE, SDG 15 LIFE ON LAND

EnglishIndonesian