Inspiring Innovation with lntegrity
Jl. Ulin Kampus IPB
+62 - 251 - 862 - 1667
Mon-Sat: 09:00 - 17:00
22 Oct 2021

Dosen IPB Meneliti Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Budaya Melalui Pengembangan Wisata di Taman Nasional Kepulauan Seribu

Selama satu tahun ke depan, Dr. Eva Rachmawati dan Dr. Syafitiri Hidayati, dua dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, bersama dengan 2 asisten dan 3 mahasiswa akan melaksanakan penelitian yang bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Budaya dalam Konteks Pariwisata” di Pulau Harapan dan Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Penelitian yang didanai oleh Kementerian Riset dan Teknologi – BRIN ini akan bermitra dengan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (BTNKpS) selaku pengelola dari pulau-pulau kecil yang masuk ke dalam wilayah kawasan konservasi Taman Nasional Kepulauan Seribu.

Penelitian ini diharapkan dapat mendorong wisata berkelanjutan di kawasan konservasi tersebut. Mewakili Kepala SPTN II Pulau Harapan BTNKpS, Domingos Da Costa menyambut baik kunjungan tim peneliti IPB di Pulau Harapan dan Pulau Kelapa Dua pada 27 Mei 2021 lalu. Domingos menyampaikan kesiapan balai untuk mendukung pelaksanaan penelitian. Ditemui saat melakukan kunjungan tersebut, Dr. Eva menyampaikan bahwa penggalian budaya masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia masih minim dilakukan, padahal kearifan lokal yang telah berkembang di sana merupakan modal sosial bagi masyarakat untuk menghadapi tantangan zaman. Selain itu, peneliti bidang sosial wisata ini menambahkan bahwa dengan mengetahui potensi kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat para pemangku kepentingan terkait dapat mengembangkan berbagai atraksi wisata sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dengan tetap mengakar pada budaya setempat. Kesiapan kapasitas masyarakat untuk terlibat aktif dalam proses pengembangan wisata di wilayahnya tentunya akan mendukung pembangunan wisata berkelanjutan dari mana diharapkan masyarakat dapat merasakan dampak positif wisata dari aspek sosial, ekonomi, psikologis, politik, dan lingkungan.

Pulau Harapan adalah pulau yang memiliki potensi wisata yang sangat tinggi dengan jumlah wisatawan mencapai 800 hingga 1000 orang per hari. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Junaedi, Ketua Kelompok Kerja Sadar Wisata (Pokdarwis), para wisatawan biasanya berkunjung ke Pulau Harapan sebagai bagian dari wisata ke pulau-pulau kecil lainnya di Kepulauan Seribu untuk melakukan beragam aktivitas wisata seperti snorkling, diving, camping dan menikmati panorama alam khas Kepulauan Seribu. Meski demikian, aktivitas wisata berbasis budaya terlihat masih belum diberdayakan, sehingga penelitian ini menjadi sangat diharapkan.

“Kearifan lokal masyarakat yang meliputi ide, pemikiran, karya, peralatan, maupun konsep dalam pengelolaan keanekaragaman hayati, lingkungan alam, serta lingkungan budayanya memiliki peran penting dalam mendukung kelestarian kawasan konservasi,” tutur Dr. Syafitri yang merupakan seorang dosen muda peneliti etnobiologi.

Masyarakat yang mendiami Pulau Harapan dan Pulau Kelapa Dua dinilai memiliki sejarah budaya yang sangat unik. Pencampuran budaya suku Betawi, Jawa, dan Mandar di Pulau Harapan membentuk budaya baru yang disebut dengan “Orang Pulo”, suatu budaya yang berbeda dari suku-suku asalnya. Sementara itu, upacara adat ‘syukuran laut’ yang masih dilakukan secara rutin setiap tahun di Pulau Kelapa Dua menjadi indikator eksistensi budaya Bugis di pulau ini. Budaya tersebut dapat menjadi modal sosial yang berpotensi diberdayakan untuk pengembangan pariwisata di Kepulauan Seribu. Namun, menurut Wira Saut Perianto Simanjuntak, S.P., Kepala Resort SPTN I Pulau Kelapa, terdapat indikasi terkikisnya budaya masyarakat Bugis yang mendiami Pulau Kelapa Dua.

Melihat kondisi dan potensi yang dimiliki oleh kedua pulau tersebut, Dr. Eva menyampaikan bahwa revitalisasi budaya melalui pengembangan budaya sebagai alternatif Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTWA) dan penguatan kelembagaan serta partisipasi masyarakat dalam wisata menjadi penting untuk dilakukan.

“Melalui penelitian dan pelibatan para pemangku kepentingan, hasil dari penelitian ini dapat diimplementasikan untuk mewujudkan wisata berkelanjutan di Kepulauan Seribu”, pungkasnya.(SHY/@W)

Penulis : Dr. Syafitri Hidayati

21 Oct 2021

Prof. Harini Muntasib: Branding Lake Toba as Traces of the World’s Largest Volcanic Eruption Must Be a Pride

Prof. Harini Muntasib, an ecotourism expert from IPB University, spoke about optimizing the Lake Toba tourism sector through the development of environmentally friendly tourism. He explained, the branding of Lake Toba as a lake with the most active volcano in the world needs to be sharpened.

The IPB University lecturer said that in the interpretation of Toba’s nature through films to visitors, it is also necessary to add biological, geological, and socio-cultural objects. According to him, the traces of the Toba eruption as an extraordinary natural museum need to be highlighted. He gave examples, for example, traces of pyroclassical deposits and hot springs. On the other hand, there are lava deposits and lake-forming diatomaceous deposits which are often ignored as geological objects.

Not only that, various types of spice and medicinal plants around Lake Toba as forest products can also be an attraction. Lake Toba also has various types of endemic fish that are interesting to explore.

“There is an interaction between nature and society, thus forming a very distinctive culture, where the people around Toba form adaptations, myths, and history. These are all materials for themes in the context of actual interpretation. “Nature speaks to visitors, speaks to the community,” said Prof. Harini Muntasib at the International Conference on Heritage of Toba: Natural and Cultural Diversity organized by the Ministry of Tourism and Creative Economy together with Kompas, online, (13/10).

The IPB University lecturer from the Faculty of Forestry and Environment also said that tourist maps or interpretation plans can be prepared in the context of development. From this data, an information center can also be built for tourist visitors.

He also suggested that a film be made based on a scenario based on the interpretation of the occurrence of Lake Toba and Lake Samosir as tourist attractions. The film can show the conditions during the Toba volcanic eruption. Starting from before the eruption. According to him, this effort can attract the attention of many eyes from around the world.

“Lake Toba is a trace of the largest eruption in the world. This should be a great pride for us who need to be appointed for branding purposes” he added.

Not only that, Prof. Harini also suggested that people build a sense of pride in Lake Toba. The reason is that, from 10 regencies around Lake Toba and Samosir Island, it is hoped that they will have the same perception of Toba.

Prof. Harini also suggested that the collaborative management mechanism for Toba tourism could involve the government and non-government. But still in the same perception, especially in resource conservation. Not only that, in this collaboration, the rights of indigenous peoples from the social and cultural aspects are also prioritized so that they become one of Toba’s tourist attractions. (MW) (IAAS/FJN)

04 Oct 2021

Tanggapi Isu Lahan Gambut, SEAMEO BIOTROP, IPB University dan UIN As-Syafi’iyah Gelar Webinar Regional

Bogor,– SEAMEO BIOTROP bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor dan Universitas Islam As-Syafi’iyah menyelenggarakan Webinar Regional bertajuk “Apa Wajah Ekosistem Gambut di Masa Depan?” secara virtual, pada 17 September 2021.

Webinar ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi ilmiah, metode dan strategi terbaru untuk pengelolaan lahan gambut berkelanjutan, potensi pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan dan menghasilkan kajian tentang inovasi dan teknologi dalam optimasi lahan basah. Webinar menampilkan dua pembicara, yaitu:

1. Ir. I.N.N Suryadiputra (Asosiasi Ahli BIOTROP, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, dan Penasihat Senior YLBA)

2. Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M., Fakultas Kehutanan dan Staf Ahli Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM)

Zulhamsyah Imran, Direktur SEAMEO BIOTROP sekaligus Keynote Speaker dalam kegiatan ini mengatakan bahwa ekosistem lahan gambut menghadapi tantangan yang sangat berat baik dalam penentuan faktor alam maupun antropogenik. Ditambahkannya, deforestasi dan alih fungsi menjadi berbagai kegiatan untuk kepentingan kesejahteraan manusia semakin meningkat tanpa memperhatikan bagaimana cara menyelamatkan ekosistem lahan gambut dan keanekaragaman hayatinya. “Terkadang kita menyalahkan bahwa peningkatan suhu global di Atmosfer Bumi yang kita sebut sebagai pemanasan global selalu menyalahkan faktor pengaruh perusakan ekosistem gambut. Saat ini, kita telah mengetahui bahwa Pemerintah Indonesia telah mengembangkan food estate di beberapa daerah di Indonesia, Pulau Sumatera-Kalimantan-Papua. Kita perlu berpartisipasi dalam kesempatan ini untuk menghindari semakin meningkatnya kerusakan ekosistem alam gambut”, ujarnya.

Dimoderatori oleh Dr. Ir. Naresworo Nugroho, MS, Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Hidup IPB, webinar ini diikuti oleh 196 individu dari Indonesia, Filipina, Kamboja, Brunei, dan Malaysia. Webinar ini disiarkan secara langsung melalui https://youtu.be/jQUsjLi_OQA. (rf)

04 Oct 2021

Penandatanganan Naskah Kerjasama Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB dan SEAMEO BIOTROP

BOGOR,– Demi mengimplementasikan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University menjalin kerjasama dengan the Southeast Asian Ministers of Education Organization, The Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) (22/09). Pendatanganan naskah kerjasama tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa dan sumberdaya manusia secara umum.

Direktur SEAMEO BIOTROP, Dr. Zulhamsyah Imran mengatakan bahwa kerjasama erat secara spesifik bersinggungan dengan topik silvikultur dan reklamasi tambang. Kerjasama tersebut dijalin untuk mengembangkan pemanfaatan hutan dalam dunia usaha.

EnglishIndonesian