Inspiring Innovation with lntegrity
Jl. Ulin Kampus IPB
+62 - 251 - 862 - 1667
Mon-Sat: 09:00 - 17:00
10 Mar 2013

History

Forestry higher education in Indonesia started with the establishment of Sekolah Tinggi Pertanian (Agricultural College) in Bogor(with Dutch name: Landbouw Hogeschool) which afterwards changed to faculty in the year 1940 with the name Faculteit voor Landbouw-wetensschappen which previously hasthe status of Department of Agriculture and Department of Forestry under the Universiteit van Indonesie (University of Indonesia).

Faculty of Agriculture (University of Indonesia) separated itself and became Bogor Agricultural University (IPB) in the year 1963 and was located in Baranangsiang campus of Bogor. This separation wasfollowed by a status change from Department of Forestry to Faculty of Forestry (Decree of Establishment No. 279, year 1965, which was issued by Indonesian president, Ir Soekarno). In the year 1968, Faculty of Forestry moved to a new building in Darmaga campus.

In the year 1969, Faculty of Forestry was divided into two departments, namely Department of Forest Management, and Department of Forest Product Technology, and in conformity with IPB curriculum program, the study period for undergraduate program changed from 6 years to 4 years.With the adoption of major–minor program in IPB, Department of Forest Product Technology changed to Department of Forest Products, whereas Department of Forest Management remained to have the same name.In the year 1982, a new department emerged within the Faculty of Forestry, namely Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism (DKSHE), whereas in the year 2005 a new other Department emerged, namely Department of Silviculture (DSVK).

Graduate program in the field of Forest Management and Wood Sciences started to be developed since the year 1978. In the year 1990, this study program changed to study program of Forestry Sciences.With the adoption of major-minor program in IPB, since the year 2005,Faculty of Forestry possessed 4 majors for undergraduate program, 5 majors for Master of Science program, and 6 majors for Doctorate program.Since the year 2011, DHH (Department of Forest Products) which initially offered 2 majors of Doctorate program, is at present only supports the program of Forest Product Technology and Sciences.

Majors of Undergraduate Program:

• Forest Management (MNH)

• Forest Products (HH)

• Forest Resources Conservation and Ecotourism (KSHE)

• Silviculture (SVK)

Majors of Master of Science Program:

• Forest Management Sciences (IPH)

• Forest Product Sciences and Technology (THH)

• Conservation of Tropical Biodiversity (KVT)

• Management of Ecotourism and Environmental Services (MEJ)

• Tropical Silviculture (SVK)

• Profession of Biodiversity Conservation (KKH)

Majors of Doctorate Program:

• Forest Management Sciences (IPH)

• Forest Product Sciences and Technology (THH)

• Conservation of Tropical Biodiversity (KVT)

• Management of Ecotourism and Environmental Services (MEJ)

• Tropical Silviculture (SVK)

10 Mar 2013

Nota Kesepahaman PT. Holcim Indonesia Tbk dengan Fakultas Kehutanan IPB

Holcim Indonesia dan IPB Tanda Tangani Nota Kesepahaman Pengelolaan Hutan Edukasi di Cibadak, Sukabumi.

Bogor, 5 Desember 2011 – Holcim Indonesia dan Institut Pertanian Bogor (IPB) menanda tangani nota kesepahaman untuk proyek hutan edukasi (educational forest) di Kampus IPB, Bogor, Senin 5 Desember 2011. Nota kesepahaman ini merupakan langkah lanjutan dari proyek reklamasi areal bekas tambang Silica Holcim di Cibadak, Sukabumi. Holcim diwakili oleh Lilik Unggul Rahardjo, Manufacturing Director. Sedangkan IPB diwakili oleh Dekan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr

Dalam sambutannya, Lilik menyampaikan apresiasinya kepada IPB atas kerja sama yang sudah terjalin baik selama ini baik dalam hal studi kinerja lingkungan di Pabrik Holcim di Gunung Putri, maupun dalam proyek reklamasi ini.

“Kerja sama ini menunjukkan komitment Holcim dalam rangka mengelola lingkungan yang dalam hal ini adalah reklamasi pasca tambang. Perlu diketahui , tambang Silica Cibadak seluas 76 Ha ini telah berakhir SIPD nya pada akhir 2010 dimana awal 2011 proses tahap reklamasi telah kita mulai. Didalam rangka untuk mewujudkan manfaat yang lebih besar, Holcim ingin menjadikan bekas area penambangan ini menjadi educational forest, yang dirasa akan membawa manfaat lebih buat masyarakat. Tentunya hal ini hanya bisa dicapai jika jika dikelola dengan perencanaan yang baik, melibatkan masyarakat dan institusi yang berpengalaman yang dalam hal ini kita menggandeng IPB yang telah berhasil mengelola hutan sejenis disekitar Cibadak, ujarnya disela-sela acara penanda tanganan tersebut.

Proyek yang direncanakan akan selesai dalam kurun waktu tiga tahun ini ditargetkan untuk menjadi area pendidikan, pelatihan, dan penelitian tanaman hutan sama seperti yang sudah dilakukan IPB di Hutan Walat, masih di dekat Cibadak, Sukabumi.

Educational forest atau hutan pendidikan merupakan salah satu dari sekian perwujudan keseriusan Holcim untuk mengelola kelestarian lingkungan operasionalnya. Baru-baru ini Holcim mendapatkan penghargaan Proper Emas untuk kinerja lingkungan pabrik di Cilacap, dan Proper Hijau untuk pabrik di Gunung Putri. Proper merupakan penghargaan tertinggi untuk kinerja lingkungan yang diberikan oleh Wakil Presiden, Boediono, dan Kementerian Lingkungan Hidup. Tidak hanya itu, sebelumnya Holcim juga meraih penghargaan Ozone Award dari Kementerian Lingkungan Hidup pada bulan September 2011.

Di bidang kontruksi berkelanjutan, Holcim Indonesia juga turut mempromosikan kegiatan Holcim Awards, sebuah kompetisi bidang konstruksi berkelanjutan yang diadakan oleh Holcim Foundation. Di tingkat regional Asia Pasifik, Holcim Awards memberikan penghargaan pengakuan khusus (Acknowledgement Prize) kepada tiga proyek di Indonesia, dua diantaranya dirancang oleh arsitek dari Indonesia, dan satu proyek dirancang oleh tim dari Belanda.

EnglishIndonesian